Salam

===---بسم ا لله الرحمن ا لر حيم ___ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ---===

Sabtu, 16 Juli 2011

Karakteristik Perkembangan Sosial Masa Remaja

Karakteristik Perkembangan Sosial Masa Remaja serta Implikasinya dalam Pandidikan

MAKALAH ( REVISI )
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok dalam Mata Kuliah
Perkembangan Peserta Didik

Disusun oleh: Kelompok 6
* Ferdian Falah (0905685)
* Ito Ismanto (0905816)
* Mohamad Sugiono (0905610)
* Saim Hidayat (0900661)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Bandung
2010


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja adalah masa dimana seorang remaja mencari jati dirinya. Masa remaja juga disebut masa emas (golden age). Namun, para remaja pada masa perkem-bangan dihadapkan dengan berbagai masalah, baik eksternal maupun internal. Ma-salah-masalah yang timbul pada masa remaja harus bisa di pahami oleh seorang pen-didik, agar remaja tidak mengalami kemun­duran mental. Karena remaja yang tidak mendapatkan bimbingan pada masa remaja, Mereka akan cenderung melakukan per-buatan-perbuatan yang melanggar norma-norma kehidupan. Pe­mecahan masalah tersebut bisa di selesaikan dengan mengaitkan masalah-masalah tersebut den­gan pen-didikan, baik pendidikan formal ataupunnon-formal.

Dengan demikian, makalah ini ditulis agar kita bisa memahami dan mengerti definisi dari masa remaja dan bagaimana karakteristik perkembangan sosial masa remaja serta implikasinya dalam pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan - rumusan yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa yang disebut dengan masa remaja?
2. Apa Perkembangan Hubungan Sosial itu?
3. Bagaimana Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja?
4. Faktor-Faktor apa saja yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial?
5. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku?
6. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial?
7. Apa Implikasi Masalah yang Timbul pada Remaja dengan Pendidikan?
8.Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan?

C. Tujuan Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dengan tujuan :

1. Memahami Definisi Masa Remaja.
2. Memahami Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial
3. Mengetahui Karaktristik Perkembangan Sosial Remaja
4. Mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
5. Memahami Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
6. Memahami Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial
7. Mengetahui Implikasi Masalah yang Timbul pada Remaja dengan Pendidikan
8. Memahami Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masa Remaja (adolescence)

Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas di-rinya, dia akan mengalami krisis iden­titas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bu­kan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun so-sialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya (Gunawan: 2000).

Lefrancois (2002: 130) menyatakan bahwa periode masa remaja itu kiranya dapat didefinisi­kan secara umum sebagai suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanaknya sampai datang awal masa dewa­sanya. Secara tentatif pula para ahli umumnya sependapat bahwa rentangan masa remaja itu berlangsung dari sekitar 11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran se­seorang.

Masa perkembangan remaja juga ditandai dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide pikiran yang dimatangkan selama mengikuti pendidikan. Mereka bersemangat untuk meraih keberhasilan. Oleh karena itu, mereka berlomba dan bersaing dengan orang lain guna membukti­kan kemampuannya. Segala daya upaya yang berorientasi untuk mencapai keberhasilan akan selalu ditempuh dan diikuti. Sebab dengan keberhasilan itu, ia akan meningkatkan harkat dan martabat hidup mereka di mata orang lain.

B. Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial

Manusia tumbuh dan berkembang pada masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang . Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangan itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan .

Interaksi sosial merupakan proses sosialisasi yang mendudukan anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial.

Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian, tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.

C. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja

Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.
• Pada masa remaja, anak mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan. Pergaulan sesama teman lawan jenis dirasakan sangat penting, tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesame remaja juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.
• Kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Remaja sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertuutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya.
• Menurut “Erick Erison” Bahwa masa remaja terjadi masa krisis, masa pencarian jati diri. Dia berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh sosiokultural. Sedangkan menurut Freud, Kehidupan sosial remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksual.
• Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok – kelompok, baik kelompok besar maupun klelompok kecil.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.

1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.

Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.

Faktor – faktor keluarga yang mempengaruhi perkembangan remaja:

1) Keberfungsian Keluarga
Keluarga yang fungsional (normal) yaitu keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang telah dijelaskan. ditandai oleh karakteristik: Saling memperhatikan dan mencintai, bersikap terbuka dan jujur, orangtua mau mendengar anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya, ada “Sharing” masalah atau pendapat diantara keluarga, mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya, saling menyesuaikan dirinya dan mengakomodasi, orang tua melindungi (mengayomi) anak, komunikasi antar anggota berlangsung dengan baik, keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai – nilai budaya, dan mampu beraaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Apabila dalam suatu keluarga tidak mampu menerapkan atau melaksanakan fungsi – fungsi seperti diatas, keluarga tersebut berarti mengalami stagnasi (kemandegan) atau disfungsi yang pada gilirannya akan merusak kekokohan konstelasi keluarga tersebut (khususnya terhadap perkembangan kepribadian anak).

Adapun ciri – ciri keluarga yang mengalami disfungsi yaitu: Kematian salah satu atau kedua orangtua, kedua orangtua bercerai(Divorce), hubungan kedua orangtua tidak baik (por marriage), hubungan orangtua dengan anak tidak baik (por parent – child relationship), suasana rumah tangga yang tegang tanpa kehangatan (high tensión and low warmth), orangtua sibuk dan jarang di rumah (parent’s absence), dan salah satu atau kedua orangtua mengalami kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or psychological disorder).

2) Pola Hubungan Keluarga
Peck (Loree, 1970: 144) telah meneliti hubungan antara karakteristik emocional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen – elemen Struktur kepribadian remaja. yaitu sebagai berikut:

a. Remaja yang memiliki “ego strenght” secara konsisten berkaitan erat dengan pengalamannya dilingkungan keluarga yang saling mempercayai dan menerima.

b. Remaja yang memiliki “super ego strenght”, sangat berkaitan erat dengan keteraturan dan konsistensi kehidupan keluarganya.

c. Remaja yang “friendliness” dan “spontanetty”, berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.

d. Remaja yang bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas terhadap dorongan – dorongan dari dalam, berkaitan dengan keluarga yang otoriter.

3) Kelas Sosial dan Status Ekonomi
Pikunas (1976: 72) mengemukakan pendapat Becker, Deutsch, Kohn dan Sheldon, tentang kaitan antara kelas sosial dengan cara atau teknik orangtua dalam mengatur (mengelola/memperlakukan) anak, yaitu bahwa:

a. Kelas Bawah (Lower Class) cenderung lebih keras dalam “toilet training” dan lebih sering meggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.

b. Kelas Menengah (Middle Class) cenderung lebih memberikan pengawasan, dan perhatiannya sebagai orangtua.

c. Kelas Atas (Upper Class) cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnyadengan kegiatan – kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang Pendidikan yang reputesinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya.

2. Kematangan anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.

Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.

Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.

4. Pedidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah).

Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

5. Kapasitas Mental, Emosi, dan Integensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

E. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku

Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide - ide dari teori – teori yang menyebabkan siakp kritis terhadap situasi dan orang lain.

Pengaruh egosentris sering terlihat pada pemikiran remaja, yaitu :

1. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat jauh dan kesulitan-kesuliatn praktis.

2. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain
Pencerminan sifat egois dapat menyebabkan dalam menghadapi pendapat oaring lain, maka sifat ego semakin kecil sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang semakin baik dan matang.

F. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial

Bergaul dengan sesama manusia (sosialisasi) dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, yang hal itu tampak juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan Teori komprehensif yang dikemukakan oleh Erickson yang menyatakan bahwa manusia hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia.

Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.

Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola yang sesuai dengan kepribadiannya.

G. Implikasi Masalah Remaja dengan Pendidikan

Conger (dalam Abin, 1975: 11) menegaskan bahwa pemahaman dan pemecahan masalah yang timbul pada masa remaja harus dilakukan secara interdisipliner dan antar lembaga. Meskipun demikian, pendekatan dan pemecahannya dari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling efektif dan strategis, karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik, khususnya para guru, banyak mempunyai kesempatan berkomunikasi dan bergaul.

Diantara usaha-usaha pembinaan yang perlu di perhatikan, sekurang-kurang-nya untuk mengurangi kemungkinan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa remaja, dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru khu­susnya:

1. Hendaknya seorang guru mengadakan program dan perlakuan layanan khusus bagi siswa re­maja pria dan siswa remaja wanita (misalnya dalam pelajaran anatomi, fisi-ologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat me-nyelenggarakan penjelasannya dengan penuh dignity. Tujuan dari usaha tersebut ada-lah untuk memahami dan mengurangi ma­salah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.

2. Memperhitungkan segala aspek selengkap mungkin dengan data atau informasi secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ), bakat khusus (aptitudes), disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersang-kutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan program studi. Upaya tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkem­bangan bahasa dan perilaku kognitif.

3. Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengkaitkan hubungan rumah dengan seko­lah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan dan menyela-raskan system nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan terhadap siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang diberikan dalam pembinaannya. Tu-juannya adalah untuk memahami dan mengu­rangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan,

4. Seorang guru atau pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mung­kin timbul bertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi konatif, afektif dan kepribadian, seyo­gyanya seorang guru memberikan tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil ke-putusan /tindakan yang tepat akan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.

H. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan

a Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsang kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat.

b Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti, bakti karya dan kelompok-kelompok belajar untuk dapat mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat.

BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan
Ä Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity).
Ä Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial.
Ä Pada masa remaja, anak mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan.
Ä Kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional
Ä Menurut Erick Erison, Penemuan jati diri seseorang didorong oleh sosiokultural. Sedangkan menurut Freud, Kehidupan sosial remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksual.
Ä Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok – kelompok, baik kelompok besar maupun klelompok kecil.
Ä Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
Ä Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide - ide dari teori – teori yang menyebabkan siakp kritis terhadap situasi dan orang lain

B. Saran
Setelah tadi dipaparkan tentang karakteristik perkembangan sosial masa remaja, maka remaja – remaja yang akan datang dengan pengetahuan yang luas dan dengan kedewasaan yang benar – benar dewasa, adalah remaja yang siap untuk berkompetensi didalam segala bidang hal, mulai dari hal keagamaan sampai kepada teknologi yang mutakhir/canggih. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bersosialisasi dengan baik bersama masyarakat sekitar.


DAFTAR PUSTAKA

Abin, S.M. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Gunawan, Ary. 2000. Sosiologi Pendidikan: Suatu Analisis Sosiologi tentang Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Lefrancois, G.R. Psychology for Teaching. dalam Abin S.M. 2002.

Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Singgih, Gunarsa. 1988. Psikologi Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulya.

Sugiyo, Teha. 1995. Keluarga sebagai Sekolah Cinta. (http:www.sabda.com, diakses 10 Desember 2009.

Soekanto. 1985. Perubahan Sosial. (http:www.masngudin.co.id, diakses 28 November 2009.

Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, PT Erlangga, Jakarta.
Baca Selengkapnya...

LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Landasan Pendidikan

Dosen Pembimbing :
Drs. Dharma Kesuma, M. Pd
Ari Rahmat, S. Pd

Disusun oleh :
Kelompok 3
* Abdul Syukur. Z (0907435)
* Ardiyansyah Eky
* Ayu (0902743)
* Naufal Rizqan. F (0905750)
* Ilham Fahmi (0900215)
* Saim Hidayat (0900661)
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2010





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan pada zaman sekarang tentunya tidak akan ada sebelum adanya Pendidikan pada zaman – zaman terdahulu, proses sistem Pendidikan yang ada sekarang adalah merupakan hasil dari proses sejarah bahwa Indonesia sejarahnya telah mengalami berbagai penjajahan dari Nagara – Negara lain, seperti Belanda, Jepang, Iggris, dan lain – lain. dan setelah Negara – Negara tersebut kalah, mereka meninggalkan banyak budaya maupun aturan – aturan yang diantaranya

adalah Pendidikan.

Dengan demikian, makalah ini disusun untuk mengetahui bagaimana sejarah Pendidikan yang ada di Indonesia ini. sehingga tebentuk sistem atau aturan – aturan dalam Pendidikan yang ada sekarang.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibaha dalam Makalah ini adalah:

1. Bagaimana Pendidikan pada Zaman Hindu/Budha ?
2. Bagaimana Pendidikan pada Zaman Islam ?
3. Bagaimana Pendidikan pada Zamann Pendudukan Asing ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, selain untuk memenuhi salah satu tugas, tetapi juga untuk:
1. Memahami dan mengerti Pendidikan pada zaman Hindu/Budha.
2. Memahami seperti apa Pendidikan pada zaman Islam.
3. Mengetahui dan mengerti Pendidikan pada zaman Pendudukan Asing.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Zaman Hindu/Budha

Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan lain-lain. Pola pendidikannya mengambil model asrama khusus, dengan fasilitas belajar seperti ruang diskusi dan seminar.

Dalam perkembangannya, kebudayaan Hindu-Budha membaur dengan unsur-unsur asli Indonesia dan memberi ciri-ciri serta coraknya yang khas. Sekalipun nanti Majapahit sebagai kerajaan Hindu terakhir runtuh pada abad ke-15, tetapi ilmu pengetahuannya tetap berkembang khususnya di bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintahan, tata negara dan hukum. Beberapa karya intelektual yang sempat lahir pada zaman ini antara lain:

1. Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri, 1019)
2. Bharata Yudha karya Mpu Sedah (Kediri, 1157)
3. Hariwangsa karya Mpu Panuluh (Kediri, 1125)
4. Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh
5. Smaradhahana karya Mpu Dharmaja (Kediri, 1125)
6. Negara Kertagama karya Mpu Prapanca (Majapahit, 1331-1389)
7. Arjunawijaya karya Mpu Tantular (Majapahit, ibid)
8. Sotasoma karya Mpu Tantular, dan
9. Pararaton (Epik sejak berdirinya Kediri hingga Majapahit).

Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini selain belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Jadi secara umum dapatlah disimpulkan bahwa:

1. Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi;
2. Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;
3. Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;
4. Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masing-masing.

B. Pendidikan Zaman Islam

Sejak abad ke-7 M, lalu lintas perdagangan laut internasional yang melewati wilayah nusantara sudah ramai (dikenal sebagai jalur perdagangan “Po-ssu” atau Persia). Daerah-daerah pesisir yang kala itu merupakan vassal (bawahan) dari kerajaan inti yang terletak di pedalaman, menjadi tempat persinggahan yang menarik bagi para pedagang dari banyak negeri seberang seperti Arab, Persia dan India. Nilai-nilai baru yang dibawa para pedagang muslim semisal dari Gujarat diterima hangat oleh raja-raja pesisir. Sebagaimana kemudian tercatat bahwa kerajaan-kerajaan Islam permulaan di Indonesia muncul di daerah pesisir seperti kerajaan Perlak (1292) dan kerajaan Samudera Pasai (1297). Dari sini pula dapat terbaca bahwa penyebaran Islam di Indonesia bermula dari pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir Sumatera Utara (jalur Selat Malaka) baru kemudian menyebar ke Jawa dan seterusnya ke wilayah Timur Indonesia.

1. Inti Ajaran Islam
a. Islam Sebagai Ajaran Tauhid

Tauhid yaitu suatu keyakinan bahwa Tuhan itu Esa segala – galanya, Esa dalam dzat-Nya, Esa dalam sifat-Nya, Esa dalam Wujud-Nya, Esa dalalm perbuatan-Nya. Allah merupakan satu – satunya Tuhan pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta. Allah tempat meminta makhluk-Nya, Allah tidak beranak (melahirkan) dan tidak diberanakan (dilahirkan), tidak satupun yang mampu menyamai-Nya.

Allah Esa dalam dzat-Nya artinya bahwa dzat Allah itu satu, tidak terbilang dan tersusun dari unsur – unsur atau elemen – elemen yang berbeda. Allah Esa dalam sifat-Nya artinya bahwa Allah memiliki sifat – sifat kesempurnaan dan keutamaan yang disebut Asmaul Husna.

b. Manusia adalah Sama disisi Allah SWT

Agama Islam mengajarkan persamaan dan persaudaraan diantara sesama manusia. Agama yang tidak membedakan sntara golongan bangsawan dan rakyat jelata. Semua manusia adalah sama – sama makhluk Allah, yang dipandang lebih diantara sesamanya hanyalah karena Keimanan dan Ketaqwaannya kepada Allah SWT. Ajaran Islam mengemukakan bahwa seseorang baru dikatakan Beriman dan Bertaqwa kepada Allah, apabila ia telah dapat mencintai orang lain sebagaimaa ia mencintai dirinya sendiri.

c. Iman, Islam dan Ikhsan

Sebutan Islam bukanlan nama yang diberikan oleh pemaluk agama Islam, melainkan diberikan oleh Allah SWT, yang tercantum dalam kitib suci Al-Qur’an (Al-Imran: 19 dan 85; Al-Maidah: 3). Ajaran Islam dibangun atas tiga ajaran pokok, yaitu :

1) Iman

Iman ialah mempercayai akan adanya Allah SWT. mempercayai terhadap Malaikat – Malaikat Allah, Kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, adanya Rasul – Rasul Allah sejak Nabi Adam as sampai Rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad saw. dan percaya akan adanya hari akhir dan pembalasan, serta yang terakhir percaya akan adanya qadar (ketentuan dari Allah) baik yang baik maupun yang tidak baik. Itulah tadi yang disebut dan lebih dikenal dengan istilah Rukun Iman.

2) Islam

Islam ialah megabdikandan menyerahkan diri hanya kepada Allah dan tidak menekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun, melaksanakan Shalat, mengeluarkan Zakat, melaksanakan Ibadah Puasa (Saum) di bulan Ramadhan, dan melakukan Ibadah Haji bagi mereka yang mampu untuk melakukannya.

3) Ikhsan

Yang dimaksud dengan Ikhsan adalah bahwa manusia mengabdikan diri atau menyerahkan kepada Allah seperti kita melihat Allah, seperti kita berhadapan dengan Allah. Namun apabila kita tidak melihat Allah secara fisik, sebenarnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui terhadap apa yang diperbuat oleh manusia.

2. Pendidikan

Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan. Da’wah bil hal atau keteladanan pada konteks ini mempunyai pengaruh besar dalam menarik perhatian dan minat seseorang untuk mengkaji atau memeluk ajaran Islam. Selanjutnya, ketika agama ini kian berkembang, di tiap-tiap desa yang penduduknya telah menjadi muslim umumnya didirikan langgar atau masjid. Fasilitas tersebut bukan hanya sebagai tempat shalat saja, melainkan juga tempat untuk belajar membaca al-Qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan yang bersifat elementer lainnya.

Metode pembelajaran adalah sorogan (murid secara perorangan atau bergantian belajar kepada guru) dan halaqah atau wetonan (guru mengajar sekelompok murid yang duduk mengitarinya secara kolektif atau bersama-sama). Mereka yang kemudian berkeinginan melanjutkan pendidikannya setelah memperoleh bekal cukup dari langgar/masjid di kampungnya, dapat masuk ke pondok pesantren. Secara tradisional, sebuah pesantren identik dengan kyai (guru/pengasuh), santri (murid), masjid, pemondokan (asrama) dan kitab kuning (referensi atau diktat ajar).

Sistem pembelajaran relatif serupa dengan sistem di langgar/masjid, hanya saja materinya kini kian berbobot dan beragam, seperti bahasa dan sastra Arab, tafsir, hadits, fikih, ilmu kalam, tasawuf, tarikh dan lainnya. Di pesantren, seorang santri memang dididik agar dapat menjadi seorang yang pandai (alim) di bidang agama Islam dan selanjutnya dapat menjadi pendakwah atau guru di tengah-tengah masyarakatnya.

Ada beberapa ciri – ciri Pendidikan pada zaman pengaruh Islam, diantaranya:

a. Pendidikan Bersifat Religius
b. Guru/Penajar tidak Mendapat Bayaran
c. Pendidikan Islam Bersifat Demokratis

C. Pendidikan Zaman Pendudukan Asing

1. Kedatangan Orang Portugis

Portugis pertama kali singgah di Malaka tahun 1509 M setelah sebelumnya menaklukkan kerajaan Goa di India. Ini berarti Portugis hadir di Indonesia hampir satu dekade setelah Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak di pulau Jawa. Tahun 1511 M Malaka sudah dapat dikuasai oleh Portugis di bawah Afonso de Albuquerqe (1459-1515 M). Dua tahun kemudian, Pati Unus putra Raden Patah memimpin armada menyerang kekuasaan Portugis di Malaka, tetapi berakhir dengan kegagalan. Berikutnya Portugis bergerak untuk menguasai daerah rempah-rempah yang berpusat di Maluku (berasal dari istilah bahasa Arab: Jazirat al-Mulk, yakni kepulauan raja-raja). Ketika Portugis menjejakkan kakinya di Maluku, seperti diutarakan oleh Russell Jones, Islam telah mengakar di kalangan penduduk setempat sekitar 80 tahun.

Praksis pendidikan pada masa Portugis ini secara mendasar dikerjakan oleh organisasi misi Katholik Roma. Baru pada tahun 1536, di bawah Antonio Galvano, penguasa Portugis di Maluku, didirikan sekolah seminari yang menerima anak-anak pemuka pribumi. Selain pelajaran agama, mereka juga diajari membaca, menulis dan berhitung. Sekolah sejenis dibuka di Solor dimana bahasa Latin juga diajarkan kepada murid-muridnya. Mereka yang berkeinginan melanjutkan pendidikan dapat pergi ke Goa – India yang ketika itu merupakan pusat kekuatan Portugis di Asia. Perkembangan pendidikan di zaman Portugis ini dapat dinyatakan berpusat di Maluku dan sekitarnya, sebab di daerah-daerah lain kekuasaan Portugis kurang begitu mengakar.

2. Zaman VOC

Pada tahun 1596 Belanda pertama kali mendarat di teluk Banten di bawah Cornelius de Houtman. Kemudian mereka menelusuri ke Timur Banten, sehingga sampai di Jayakarta, dirubah namanya menjadi Batavia, dan pada tahun 1602 di dirikanlah suatu perkumpulan dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selanjutnya keluarga Belanda membutuhkan pendidikan, baik pendidikan umum (pengetahuan umum maksudnya) maupun pengetahuan khusus, dan sebagai perkumpulan dagang VOC membutuhkan tenaga pembantu dari bumi putra, maka mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.

a. Dasar dan Tujuan Pendidikan

Sebagai perusahaan dagang, wajarlah VOC memiliki tujuan komersial. Pada abad 17 dan 18 di Negeri Belanda segala kegiatan yang menyangkut pendidikan dilaksanakan oleh lembaga keagamaan. Pemerintah tidak ikut campur dalam penyelenggaraannya, sehingga Gereja memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan pendidikan. Namun di Indonesia VOC tidak menginginkan Gereja (lembaga keagamaan) memiliki wewenang yang besar dalam mengatur masyarakat di daerah-daerah yang mereka kuasai. Sehingga kegiatan Gereja merupakan bagian dari kegiatan VOC. Jadi perluasan agama Kristen Protestan dilaksanakan oleh VOC sendiri, sesuai dengan intruksi tahun 1617 kepada Gubernur Jenderal dan Raad Van Indie diantaranya supaya VOC memperkembangkan agama Kristen dan mendirikan sekolah-sekolah untuk membendung agama Katholik (M. Said, 1981). Sekolah tersebut dibiayai VOC untuk dijadikan persemaian agama Protestan.

Karena pendidikan dilaksanakan oleh kalangan Gereja, walaupun mereka sebagai pegawai VOC, yang menjadi dasar pendidikan adalah agama Kristen Protestan. Adapun yang menjadi tujuan pendidikan adalah:

1) Untuk mengembangkan ajaran Kristen Protestan
2) Pendidikan yang diberikan kepada bumi putra untuk mendapatkan tenaga pembantu yang murah, yang dapat dikerjakan di VOC.

Secara umum sistem pendidikan pada masa VOC dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pendidikan Dasar Berdasar peraturan tahun 1778, dibagi kedalam 3 kelas berdasar rankingnya. Kelas 1 (tertinggi) diberi pelajaran membaca, menulis, agama, menyanyi dan berhitung. Kelas 2 mata pelajarannya tidak termasuk berhitung. Sedangkan kelas 3 (terendah) materi pelajaran fokus pada alphabet dan mengeja kata-kata. Proses kenaikan kelas tidak jelas disebutkan, hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Pendidikan dasar ini berupaya untuk mendidik para murid-muridnya dengan budi pekerti. Contoh pendidikan dasar ini antara lain Batavische school (Sekolah Betawi, berdiri tahun 1622); Burgerschool (Sekolah Warga-negara, berdiri tahun 1630); Dll.

2. Sekolah Latin Diawali dengan sistem numpang-tinggal (in de kost) di rumah pendeta tahun 1642. Sesuai namanya, selain bahasa Belanda dan materi agama, mata pelajaran utamanya adalah bahasa Latin. Setelah mengalami buka-tutup, akhirnya sekolah ini secara permanent ditutup tahun 1670.

3. Seminarium Theologicum (Sekolah Seminari) Sekolah untuk mendidik calon-calon pendeta, yang didirikan pertama kali oleh Gubernur Jenderal van Imhoff tahun 1745 di Jakarta. Sekolah dibagi menjadi 4 kelas secara berjenjang. Kelas 1 belajar membaca, menulis, bahasa Belanda, Melayu dan Portugis serta materi dasar-dasar agama. Kelas 2 pelajarannya ditambah bahasa Latin. Kelas 3 ditambah materi bahasa Yunanu dan Yahudi, filsafat, sejarah, arkeologi dan lainnya. Untuk kelas 4 materinya pendalaman yang diasuh langsung oleh kepala sekolahnya. Sistem pendidikannya asrama dengan durasi studi 5,5 jam sehari dan Sekolah ini hanya bertahan selama 10 tahun.

4. Academie der Marine (Akademi Pelayanan) Berdiri tahun 1743, dimaksudkan untuk mendidik calon perwira pelayaran dengan lama studi 6 tahun. Materi pelajarannya meliputi matematika, bahasa Latin, bahasa ketimuran (Melayu, Malabar dan Persia), navigasi, menulis, menggambar, agama, keterampilan naik kuda, anggar, dan dansa. Tetapi iapun akhirnya ditutup tahun 1755.

5. Sekolah Cina 1737 didirikan untuk keturunan Cina yang miskin, tetapi sempat vakum karena peristiwa de Chineezenmoord (pembunuhan Cina) tahun 1740. selanjutnya, sekolah ini berdiri kembali secara swadaya dari masyarakat keturunan Cina sekitar tahun 1753 dan 1787.

6. Pendidikan Islam Pendidikan untuk komunitas muslim relatif telah mapan melalui lembaga-lembaga yang secara tradisional telah berkembang dan mengakar sejak proses awal masuknya Islam ke Indonesia. VOC tidak ikut campur mengurusi atau mengaturnya.

3. Pemerintahan Hindia Belanda

Pada akhir abad ke-18, setelah VOC mengalami kebangkrutan, kekuasaan Hindia Belanda akhirnya diserahkan kepada pemerintah kerajaan Belanda langsung. Pada masa ini, pendidikan mulai memperoleh perhatian relatif maju dari sebelumnya.

Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain: (1) Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu agama tertentu; (2) Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung kepentingan kolonial; (3) Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.; (4) Pendidikan diukur dan diarahkan untuk melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial. Jadi secara tidak langsung, Belanda telah memanfaatkan kelas aristokrat pribumi untuk melanggengkan status quo kekuasaan kolonial di Indonesia.

Secara formil, pemerintah Hindia Belanda telah mendirikan beberapa sekolah di Jawa sejak kepemimpinan Daendels, yaitu sekolah artileri (1806) di Jatinegara, sekolah pelayaran (1808) di Semarang, sekolah bidan (1809) di Jakarta, dan sekolah seni tari (1809) di Cirebon.

Daendels ini juga dikenal sebagai tokoh pertama yang menginstruksikan para bupati agar mengusahakan pendirian sekolah-sekolah bagi remaja-remaja pribumi. Janssens yang menggantikan Daendels juga meneruskan kebijakan yang serupa di bidang pendidikan. Tetapi usahanya terinterupsi dengan kekalahan militer dan politik dari kerajaan Inggris. Hindia Belanda selanjutnya dikelola oleh Inggris di bawah Raffles. Secara kelembagaan formal, Inggris tidaklah menaruh perhatian besar kepada dunia pendidikan bagi kaum pribumi. Hanya saja, mereka tergolong sangat berminat melakukan eksplorasi ilmiah yang kemudian menghasilkan karya-karya intelektual yang cukup monumental, antara lain: History of Java karya Raffles, sejarah Sumatera, kamus Melayu dan pelajaran bahasa Melayu yang merupakan karya-karya Marsden, Java Government Gazette yang memuat ilmu pengetahuan tentang daerah dan penduduk, hasil kajian botani oleh Horsfield, dan juga kajian kepemilikan tanah di Jawa oleh Colin Mackenzie. Karya-karya tersebut memberi kontribusi signifikan bagi dunia ilmu pengetahuan sekaligus menjadi penanda khusus masa lima tahun (1811-1816) kekuasaan Inggris di Indonesia. Masa pemulihan kekuasaan Belanda pasca pendudukan Inggris menjadi titik tolak baru bagi perkembangan lebih maju dunia pendidikan di Indonesia.

Pada masa ini, pendidikan bagi pribumi kembali dirasa penting guna menopang operasionalisasi pemerintahan Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Van den Bosch (1829-1834) yang dikenal sebagai penggagas Cultuurstelsel tercatat pernah menerbitkan edaran agar didirikan sekolah dasar negeri di tiap karesidenan atas biaya Bijbelgenootschap (persekutuan Injil) tahun 1831. Tetapi kurang beroleh tanggapan karena menyelisihi prinsip netral sikap pemerintah dalam soal agama. Baru kemudian tahun 1848, dengan keluarnya Keputusan Raja, diinstruksikan untuk mendirikan sekolah-sekolah pribumi dengan pembiayaan sebesar f. 25.000 setahun yang dibebankan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendidik para calon pegawai negeri. Sejak itulah berdiri dan berkembang sekolah-sekolah dari tingkat dasar dan lanjutan hingga tinggi yang memperkenankan golongan pribumi (aristokrat) untuk turut menikmati pendidikan. Untuk mengurusi pendidikan, agama dan kerajinan, pemerintah Hindia Belanda juga telah membentuk departemen khusus pada tahun 1867. Perkembangan ini kemudian sempat mengalami kemunduran karena krisis ekonomi dunia (malaise) yang berlangsung hampir satu dekade (1883-1892).

Perkembangan pendidikan di Indonesia mendapati tahapan barunya menjadi lebih progresif ketika memasuki tahun 1900, yakni era Ratu Juliana berkuasa di kerajaan Belanda. Van Deventer yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerapkan politik etis (Etische Politiek) pada tahun 1899 dengan motto “de Eereschuld” (hutang kehormatan) dan slogan “Educatie, Irigatie, Emigratie”.

Prinsip-prinsip atau arah etis (etische koers) yang diterapkan di bidang pendidikan pada masa ini adalah:

1. Pendidikan dan pengetahuan Barat diterapkan sebanyak mungkin bagi pribumi. Bahasa Belanda diupayakan menjadi bahasa pengantar pendidikan;

2. Pendidikan rendah bagi pribumi disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sistem pendidikan pada masa ini belum lepas dari pola stratifikasi sosial yang telah ada, dan beroleh pengesahan legal sejak tahun 1848 dari penguasa kolonial.

Dalam stratifikasi resmi tersebut dinyatakan bahwa penduduk dibagi kedalam 4 (empat) golongan: (1) Golongan Eropa; (2) Golongan yang dipersamakan dengan Eropa; (3) Golongan Bumiputera; dan (4) Golongan yang dipersamakan dengan Bumiputera. Tahun 1920, rumusan ini mengalami revisi menjadi seperti berikut ini: (1) Golongan Eropa; (2) Golongan Bumiputera; dan (3) Golongan Timur Asing. Perlu dicatat bahwa untuk golongan pribumi (bumiputera), secara sosial terstratifikasi sebagai berikut: (1) Golongan bangsawan (aristokrat) dan pemimpin adat; (2) Pemimpin agama (Ulama); dan (3) Rakyat biasa.

Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sejak diterapkannya Politik Etis dapat digambarkan sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar Bahasa Belanda (ELS, HCS, HIS), sekolah dengan pengantar bahasa daerah (IS, VS, VgS), dan sekolah peralihan. (2) Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum (MULO, HBS, AMS) dan pendidikan kejuruan. (3) Pendidikan tinggi.

BAB III


PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari pembahaan diatas tadi, maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia telah mengalami beberapa macam/beberapa contoh pendidika yaitu:

Ø Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang terjadi di India.

Ø Inti Ajaran Islam adalah meliputi : Islam Sebagai Ajaran Tauhid, Manusia adalah Sama disisi Allah SWT, dan Iman, Islam dan Ikhsan.

Ø Pendidikan Zaman Pendudukan Asing

Ø Kedatangan Orang Portugis

Ø Zaman VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie)

Ø Pemerintahan Hindia Belanda

B. Saran

Pada akhirnya, penyusun menyarankan dalam mengambil sumber reverensi, tidak hanya satu atau dua sumber saja, karena tiap sumber kadang sering banyak perbedaannya, itu semua karenasupaya ada perbandingan antara sumber yang satu dengan yang lainnya, dan juga untuk memperkuat teori.

kritik dan saran senantiasa penyusun harapkan demi kesempurnaannya penulisan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen MKDP. (2009). Landasan Pendidikan. Bandung: (tidak diterbitkan).

http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2008/11/30/landasan-historis-pendidikan-di-indonesia/
Baca Selengkapnya...

KOMPONEN – KOMPONEN PEMBELAJARAN

KOMPONEN – KOMPONEN PEMBELAJARAN

RESUME

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran semester 3 (ganjil)

Dosen Pembimbing Prof. Dr. H. As’ari Djohar, M. Pd.

Disusun oleh:

Kelompok 7

Fendy Thomas (0909155)

M Slamet Raharjo (0908928)

Saim Hidayat (0900661)


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2010

URAIAN

Istilah pembelajaran merupakan terjemahan kata “instruction”. Menurut Arief S. Sadiman, kata pengajaran hanya ada didalam konteks guru-murid di kelas formal, sedangkan kata pembelajaran tidak hanya itu, akan tetapi juga meliputi kegiatan belajar mengajar yang tidak dihariri oleh guru secara fisik, didalam kata pembelajaran ditekankan pada kegiatan belajar siswa melalui usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar. Di pihak lain ada yang berpandangan bahwa kata pembelajaran dan kata pengajaran pada hakekatnya sama, yaitu suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam mencapaian guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai

tujuan yang telah ditentukan.

Kedua pandangan tersebut dapat digunakan, yang terpenting adalah interaksi yang terjadi antara guru dan murid itu harus adil, yakni adanya komunikasi yang timbale balik antara keduanya, baik secara langsung ataupun tidak langsung atau melalui media. Jangan selalu menganggap siswa sebagai subjek belajaryang tidak tahu apa-apa, akan tetapi siswa itu memiliki latar belakang, minat, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda. Peranan guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Setelah guru mempelajari kurikulum yang berlaku, selanjutnya membuat suatu desain pembelajaran dengan mempertimbangkan kemampuan awal siswa (entering behavior), tujuan yang hendak dicapai, teori belajar dan pembelajaran, karakteristik bahan yang akan diajarkan, metode dan media atau sumber belajar yang akan digunakan, dan unsure-unsur lainnya sebagai penunjang. Dalam hal ini ada dua kegiatan utama, yaitu guru bertindak mengajar dan siswa bertidak belajar. Kedua kegiatan tersebut berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Pada akhirnya implementasi pembelajaran itu akan menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil ini akan memberikan dampak bagi guru dan siswa.

Bagi guru sebagai dampak pembelajaran berupa hasil yang dapat diukur sebagai data hasil belajar siswa (angka/nilai) dan berupa masukan bagi pengembangan pembelajaran selanjutnya. Sedangkan bagi siswa sebagai dampak pengiring berupa terapan pengetahuan dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu transfer belajar yang akan membantu perkembangn mereka mencapai keutuhan dan kemandirian. Jadi, ciri utama dari kegiatan pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi yang terjadi antara pelaku yang belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan guru, teman-temannya, tutor, media pembelajaran, dan sumber-sumber belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lainnya dari pembelajaran ini berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Dimana didalam pembelajaran akan terdapat komponen-komponen sebagai berikut; tujuan, materi/bahan ajar, metode dan media, evaluasi, anak didik,/siswa, dan adanya pendidik atau guru.

Sebagai sebuah system, masing-masing komponen tersebut membentuk sebuah integritas atau satu kesatuan yang utuh. Masing-masing komponen saling berinteraksi yaitu saling berhubungan secara aktif dan saling mempengaruhi. Misalnya dalam menentukan bahan pembelajaran merujuk pada tujuan yang telah ditentukan, serta bagaimana materi itu disampaikan akan menggunakan strategi yang tepat yang didukung oleh media yang sesuai. Dalam menentukan evaluasi pembelajaran akan merujuk pada tujuan pembelajaran, bahan yang disediakan media dan strategi yang digunakan, begitu juga dengan komponen yang lainnya saling bergantung dan saling terobos.

1. Tujuan Pembelajaran

a. Hirarki Tujuan

Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai, oleh kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini antara lain upaya mencapai tujuan-tujuan lain yang lebih tinggi tingkatannya, yakni tujuan pendidikan dan tujuan pembangunan nasional. Tujuan-tujuan itu bertingkat, berakumulasi, dan bersinergi untuk menuju tujuan yang lebih tinggi tingkatannya, yakni membangun manusia/peserta didik yang sesuai dengan yang dicita-citakan.

1. Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dan didasari oleh falsafah negaraindonesia (pancasila).

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

2. Tujuan Institusional/Lembaga

Tujuan institusional merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap sekolah atau lembaga pendidikan. Tujuan institusional ini merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan sesuai dengan jenis dan sifat sekolah atau lembaga pendidikan. Tujuan institusional ini sifatnya lebih kongkrit dari tujuan pendidikan nasional. Tujuan institusional ini dapat dilihat dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan.

3. Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi. Tujuan ini dapat dilihat dari GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) setiap bidang studi. Tujuan kurikuler merupakan penjabaran dari tujuan institusional, sehingga kumulasi dari setiap tujuan kurikuler ini akan menggambarkan tujuan institusional.

4. Tujuan Instruksional/Pembelajaran

Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan instruksional/pembelajaran. Tujuan ini sering kali dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu:

a) Tujuan Instruksional Umum

Tujuan instruksional umum adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan instruksional umum ini dapat dilihat dari tujuan setiap pokok bahasan suatu bidang studi yang ada didalam GBPP.

b) Tujuan Instruksional Khusus

Tujuan instruksional khusus merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum. Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksud agar tujuan instruksional umum tersebut dapat lebih dispesifikan dan mudah diukur tingkat ketercapaiannya. Untuk memudahkan guru dalam mengembangkan dan merumuskan tujuan pembelajaran khusus ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan patokan, yaitu :

· Menggunakan kata kerja operasional

· Harus dalam bentuk hasil belajar, bukan apa yang dipelajari

· Harus berbentuk tingkah laku siswa, bukan tingkah laku guru.

· Hanya meliputi satu jenis kemampuan, agar mudah dalam menilai pencapaian tujuan.

Untuk memudahkannya dapat dilakukan dengan memilah empat komponen, yaitu ABCD,

A = Audience; sasaran siapa yang belajar. Dirumuskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan belajar itu diarahkan.

B = Behavior; perilaku spesifik yang diharapkan dilakukan siswa setelah KMB. Rumusan perilaku ini mencakup kata kerja aktif transitif dan objeknya.

C = Condition; keadaan/ syarat yang harus dipenuhi atau dikerjakan siswa saat dites.

D = Degree; batas minimal tingkat keberhasilan terendah yang harus dipenuhi dalam mencapai perilaku yang diharapkan, penentuan tergantung pada; jenis bahan materi, penting tidaknya materi, tinggi rendahnya sekolah, sifat kemampuan yang harus dimiliki.

Seiring dengan perkembangan yang ada saat ini, pemerintah pusat tidak lagi menyusun kurikulum nasional, tetapi hanya menetapkan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) dan Standar Isi berikut Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap mata pelajaran. Kurikulum dikembangkan oleh masing-masing sekolah/madrasah yang dikenal dengan nama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan silabusnya.



2. Bahan Pembelajaran

Bahan pembelajaran pada dasarnya adalah ”isi” dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/ sub topikdan rinciannya. Secara umum isi kurikulum itu dapat dipilah menjadi tiga unsur utama, yaitu logika, etika yang berupa muatan nilai moral, dan estetika yang berupa muatan nilai seni. Sedangkan bila memilah berdasarkan taksonomi bloom dkk, bahan pembelajaran itu berupakognitif (pengetahuan), afektif (sikap/nilai), dan psikomotor (keterampilan). Bila dirinci lebih lanjut, isi kurikulum atau bahan pembelajaran itu dapat dikategorikan kedalam 6 jenis, yaitu; fakta, konsep/teori, prinsip, proses, dan nilai serta keterampilan.

a. Fakta adalah sesuatu yang telah terjadi, bisa berupa objek atau keadaan suatu hal.

b. Konsep/teori adalah suatu ide atau gagasan yang menjelaskan serangkaian fakta yang harus memadukan, universal, dan meramalkan.

c. Prinsip merupakan suatu aturan/kaidah untuk melakukan sesuatu sebagai titik tolak untuk berfikir.

d. Proses adalah serangkaian gerakan, perubahan, perkembangan atau suatu cara/prosedur untuk melakukan suatu kegiatan secara rasional.

e. Nilai adalah suatu pola, ukuran norma, atau suatu tipe/model, yang berkaitan dengan pengetahuan atas kebenaran yang bersifat umum.

f. Keterampilan adalah suatu kemampuan untuk berbuat sesuatu, baik dalam pengertian fisik maupun mental.

Tugas guru disini adalah memlih dan mengembangkan bahan pembelajaran dengan pertimbangan kriteria sebagai berikut; relevansi (secara psikologis dan sosiologis), kompleksitas, rasional/ilmiah, fungsional, ke-up to date-an, dan komprehensif/ keseimbangan. Sedangkan pengembangan bahan ajar itu sendiri dapat disusun dengan menggunakan suatu sekuen bahan ajar yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu sekuen kronologis, sekuen kausal, sekuen struktural, sekuen logis dan psikologis, sekuen spiral, dan lain-lain.

Dalam pengembangan dan pemanfaat bahan pembelajaran, guru dapat melakukannya dengan dua cara, yaitu sumber-sumber belajar yang dirancang dan dikembangkan untuk kepentingan pembelajaran dan sumber-sumber pembelajaran yang ada dilingkungan sekitar yang dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.

3. Strategi dan Metode Pembelajaran

Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan salah satu komponen didalam system pembelajaran, yang tidak dapat dipisahkan dari komponen lain didalam system tersebut.

Strategi pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor Tujuan

Tujuan pengaaran menggambarkan tingkah laku yang harus dimiliki siswa setelah prose belajar mengajar selesai dilaksanakan. Seperti yang kita ketahui tingkah laku yang harus dimiliki siswa dapat dikelompokan kedalam beberapa kelompok, antara lain:

a) Tujuan untuk aspek pengetahuan, sebagai contoh: dalam hal kebersihan, siswa dapat menjelaskan konsep kebersihan.

b) Tujan untuk aspek keterampilan, sebagai contoh: dalam hal kebersihan, siswa dapat membersihkan ruangan kelas.

c) Tujuan untuk aspek sikap, sebagai contoh: dalam hal kebersihan, siswa bisa menghargai kebersihan.

b. Faktor Materi

Dilihat dari hakekatnya, ilmu atau materi pelajaran memilki karakteristik yang berbeda. Karakteristik ilmu atau materi pelajaranbmembawa implikasi terhadap penggunaan cara dan teknik didalam proses belajar mengajar. Mungkin atas dasar inilah tiap bidang studi atau mata pelajaran memiliki strategi yang berbeda dengan mata pelajaran lain, sehingga muncul metodik khusus mata pelajaran, seperti metodik khusus IPA, metodik khusus Matematika, metodik khusus IPS, dan sebagainya.

Secara teoritis didalam ilmu atau mata pelajaran terdapat beberapa sifat materi, yaitu fakta, konsep, prinsip, masalah, prosedur(keterampilan), dan sikap (nilai). Mengajarkan materi – materi tersebut berbeda yang satu dengan yang lainnya bergantung kepada sifatnya.

c. Faktor Siswa

Metode dan teknik yang digunakan didalam proses belajar mengajar antara lain bergantung pada jumlah siswa. Metode dan teknik yang digunakan didalam proses belajar mengajar dengan jumlah siswa puluhan siswa akan berbeda dengan metode dan teknik didalam proses belajar mengajar dengan jumlah siswa beberapa orang saja.

Dalam hal ini dipertimbangkan bahwa:

a) Siswa sebagai keseluruhan, dalam arti segala aspek pribadinya diperhatikan secara utuh.

b) Siswa sebagai pribadi tersendiri, setiap siswa memiliki perbedaan dari yang lain dalam hal: kemampuan, tata belajar, kebutuhan, dan sebagainya yang berkaitan erat dengan proses belajar mengajar.

c) Tingkat per4kembangan siswa akan mempengaruhi proses pembelajaran.

d. Faktor Fasilitas

Faktor fasilitas turut menentukan proses dan hasil belajar. Jika kita merencanakan akan menggunakan metode demonstrasi didalam mengajarkan suatu keterampilan tertentu kepada siswa dengan menggunakan alat – alat pelajaran yang telah ditetapkan, akan tetapi ternyata alat – alatnya itu kurang lengkap atau sama sekali tidak ada, maka proses yang telah direncanakan sudah tentu tidak dapat dilaksanakan sebagaimana semestinya dan hasilnyapun tidak akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

e. Faktor Waktu

Faktor waktu dapat dibagi dua, yaitu yang menyangkut jumlah waktu dan kondisi waktu. Hal yang menyangkut jumlah waktu ialah beberapa puluh menit atau beberapa jam pelajaran waktu yang tersedia untuk proses belajar mengajar tersebut. Sedangkan yang menyangkut kondisi waktu, ialah kapa atau pukul berapa proses belajar mengajar itu dilaksanakan, apakah pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Maka sudah tentu kondisinya akan berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi terhadap proses belajar mengajar taid.

f. Faktor Guru

Faktor guru adalah salah satu faktor penentu, pertimbangan semua faktor diatas akan sangat bergantung kepada kreativitas guru. Dedikasi dan kemampuan gurulah yang pada akhirnya mempengaruhi pelaksanaan proses pembelajaran.

4. Beberapa Strategi Pembelajaran dan Metode Mengajar

Beberapa contoh stratgi penbelajaran dan metode mengajar yang dapat digunakan sebagai alternatif upaya pencapaian tujuan pembelajaran, antara lain:

a. Strategi Ekspositoril Klasikal

Dalam strategi ini, klasikal klasikal lebih banyak menjlaskan pesan yang sebelumnya telah diolah sendiri, sementara siswa lebih banyak menerima pesan yang telah jadi. Strategi seperti ini biasanya apabila:

a) Jumlah siswa cukup banyak.

b) Sumber pelajaran jumlahnya sangat terbatas, apalagi jika hanya satu yang dipergunakan olh guru.

c) Media lain tidak ada kecuali buku sumber yang dipergunakan oleh guru dan papan tulis.

d) Waktu yang tersedia sangat sedikit dibanding dengan meteri pelajaran yang relatif banyak dengan tujuan yang ingin dicapai lebih banyak bersifat pengetahuan.

Bila strategi pembelajaran seperti ini terpaksa harus dilakukan, disarankan:

a) Guru harus menguasai meteri pelajaran sepenuhnya.

b) Selingi dengan tanya jawab supaya siswa lebih aktif.

c) Berian tugas yang wajib dikerjakan siswa pada saat itu atau diluar jam pelajaran.

d) Berikan balikan terhadap pekerjaan siswa yang telah dikoreksi.

e) Berikan kesempatan pada siswa yang menghadapi kesulitan untuk berkonsultasi diluar jam pelajaran.

f) Harus disadari bahwa strategi belajar mengajar seperti itu lebih cocok untuk aspek kognitif tingkat rendah.

b. Strategi Heuristik

Terdapat dua sub strategi belajar mengajar pada strategi heuristik, yaitu Discovery dan Inquiri atau metode penyelidikan. Sund (1975) mengemukakan bahwa Discovery adalah proses mental, dimana individu mengasimilasi konsep dan prinsip. Atau dengan kata lainproses diskoveri terjadi apabila siswa terlibat dalam proses mentalnyauntuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

Kegiatan diskoperi sering terjadi pada pelajaran IPA di laboratorium dimana siswa mencari konsep atau prinsip dengan petunjuk langkah – langkah yang harus dilakukan, yang disebut juga guided discovery inquiri laboratory lesson. Inquiry mengandung proses – proses mental yang lebih tinggi tingkatannya daripada Discovery, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, menganalisis data, dan menari kesimpulan. Disertai sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka. Jadi inquiri adalah perluasan proses diskoperi yang digunakan dengan cara yang lebih terbuka.

c. Metode Tanya Jawab

Metode ini merupakan metode mengajar yang mempunyai peranan meningkatkankadar berfikir siswa. Metode tanya jawab dapat digunakan untuk:

a) Mendiagnose perkembangan siswa.

b) Menentukan tingkat kemampuan kognitif siswa.

c) Menetapkan studi tambahan. dan

d) Memperkaya materi pelajaran.

Menurut Donald C. Orlich (1990: 195) semua pertanyaan dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori dasar, yaitu (1) convergent, (2) divergen, dan (3)evaluative. Pola pertanyaan convergent terfokus pada tujuan yang lebih terbatas atau lebih terarah kepada jawaban tertentu. Pola pertanyaan divergent terarah kepada respon siswa yang bervariasi terhadap pertanyaan guru, tiap siswa dapat merespon berbeda dari yang lain. Sedangkan pola pertanyaan evaluative merupakan pertanyaan divergent yang ditambah dengan evaluasi berdasarkan kriteria.



5. Kriteria Penggunaan Strategi Pembelajaran dan Metode Mengajar

Proses belajar mengajar yang baik harus memiliki dan memenuhi sejumlah kriteria, antara lain:

a. Memiliki relevansi epistemologis yang tinggi,

b. Memiliki tingkat relevansi psikologis,

c. Memiliki tingkat relevansi sosiologis.



6. Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan betuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara, dan juga media merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar. “Media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan , dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut”(Sweden,1997:11). Selain itu, menurut Moedjiono, & Moh. Dimyati (1991/1992: 2), “Media yakni bahan pembelajaran dengan atau tanpa peralatan yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada para siswa agar mereka dapat mencapai tujuan”.

“Media pembelajaran adalah segala sesuatu (alat/sarana) yang dapat befungsi sebagai saluran / perantara komunikasi dalam kegiatan pendidikan agar dapat berlangsung secara efisien dan efektif ”(Moedjiono dan Surijanta, 1992).

Penulis dapat menyimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat / perantara yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan materi pelajaran kepada para siswa agar mereka dapat mencapai tujuan dari proses belajar mengajar.

Media pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa bagian :

a. Media Visual adalah media yang hanya dapat delihat dengan menggunakan indera penglihatan.Media ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan (non –projected visual) dan media yang dapat diproyeksikan (projected visual),berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion pictures).

b. Media Audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Ada beberapa pertimbangan bila ingin menggunakan media ini, antara lain :

· media ini hanya akan mampu melayani mereka yang sudah mempunyai kemampuan dalam berpikir abstrak

· media ini memerlukan pemusatan perhatian yang lebih tinggi dibanding media lainnya

· karena sifatnya auditif, diperlukan pengalaman-pengalaman secara visual untuk memperoleh hasil belajar yang baik

c. Media Audio-Visual merupakan kombinasi audio dan visual atau media pandang-dengar. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (teacher) tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media, maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar. Slide bersuara merupakan salah satu contoh dari media pembelajaran yaitu media audio- visual.

d. Kelompok Media Penyaji. Donald T. Tosti dan John R. Ball mengelompokkan media menjadi tujuh kelompok,yaitu :

· Kelompok kesatu : grafis, bahan cetak dan gambar diam

· Kelompok kedua : media proyeksi diam

· Kelompok ketiga : media audio

· Kelompok keempat : media visual

· Kelompok kelima : media gambar hidup/film

· Kelompok keenam : media televisi

· Kelompok ketujuh : multi media

e. Media Objek dan Media Interaktif

· Media Objek : media tiga dimensi yang menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri fisiknya sendiri, seperti ukurannya, bentuknya, beratnya. Media ini terbagi menjadi dua yaitu objek alami yang hidup contohnya ikan, burung, dll dan objek alami yang tidak hidup contohnya batu-batuan,kayu, dll.

· Media Interaktif : karakteristik dari media ini adalah siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek saja, melainkan juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran.Sedikitnya ada tiga macam interkasi, yaitu

1. Menunjukkan siswa berinteraksi dengan sebuah program

2. Siswa berinteraksi dengan mesin

3. Mengatur interaksi antar siswa secara teratur tapi tidak terpogram.

7. Evaluasi Pembelajaran

a. Pengertian Evaluasi dan Pengukuran

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif.

Menurut pengertian bahasa kata pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.

b. Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran

· Berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :

1. Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan- kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.

2. Evaluasi selektif adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.

3. Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa

4. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.

5. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.

· Berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran

1.Evaluasi Program Pembelajaran : evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.

2.Evaluasi Proses Pembelajaran : evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3.Evaluasi Hasil Pembelajaran : evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.

· Berdasarkan objek :

1.Evaluasi Input : evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.

2.Evaluasi Transformasi: evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain materi, media, metode dan lain-lain.
3.Evaluasi Output : evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

· Berdasarkan subjek :

1.Evaluasi Internal : evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.

2.Evaluasi Eksternal : evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.

c.Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Tujuan utama evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, taraf perkembangan, atau taraf pencapaian kegiatan belajar siswa. Tujuan khusus evaluasi pembelajaran adalah :

1.Mengetahui kemajuan belajar siswa

2.Mengetahui potensi yang dimiliki siswa

3.Mengetahui hasil belajar siswa

4.Mengadakan seleksi

5.Mengetahui kelemahan atau kesulitan belajar siswa

d. Prinsip-prinsip Umum Evaluasi dalam Pembelajaran

Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara operational. Selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian (value judgement), Karena itu dalam evaluasi diperlukan prinsip-prinsip sebagai petunjuk agar dalam pelaksanaan evaluasi dapat lebih efektif. Prinsip-prinsip itu antara lain:

1. Kepastian dan kejelasan.

Dalam proses evaluasi maka kepastian dan kejelasan yang akan dievaluasi menduduki urutan pertama. Evaluasi akan dapat dilaksanakan apabila tujuan evaluasi tidak dirumuskan dulu secara jelas dalam. definisi yang operational. Bila kita ingin mengevaaluasi kemajuan belajar siswa maka pertama-tama kita identifikasi dan kita definisikan tujuan-tujuan instruksional pengajaran dan barulah kita kembangkan alat evaluasinya.

2. Teknik evaluasi

Teknik evaluasi yang dipilih sesuai dengan tujuan evaluasi. Hendaklah diingat bahwa tidak ada teknik evaluasi yang cocok untuk semua keperluan dalam pendidikan. Tiap-tiap tujuan (pendidikan) yang ingin dicapai dikembangkan teknik evaluasi tersendiri yang cocok dengan tujuan tersebut. Kecocokan antara tujuan evaluasi dan teknik yang digunakan perlu dijadikan pertimbangan utama.

3. Komprehensif.

Evaluasi yang komprehensif memerlukan tehnik bervariasi. Tidak adalah teknik evaluasi tunggal yang mampu mengukur tingkat kemampuan siswa dalam belajar, meskipun hanya dalam satu pertemuan jam pelajaran. Sebab dalam kenyataannya tiap-tiap teknik evaluasi mempunyai keterbatasan-keterbatasan tersendiri. Test obyektif misalnya akan mem¬berikan bukti obyektif tentang tingkat kemampuan siswa. Tetapi hanya memberikan informasi sedikit dari siswa tentang apakah ia benar-benar mengerti tentang materi tersebut.

4. Kesadaran adanya kesalahan pengukuran.

Evaluator harus menyadari keterbatasan dan kelemahan dalam teknik evaluasi yang digunakan. Atas dasar kesadaran ini, maka dituntut untuk lebih hati-hati dalam kebijakan-kebijakan yang diambil setelah melaksanakan evaluasi. Evaluator menyadari bahwa dalam pengukuran yang dilaksanakan, hanya mengukur sebaglan (sampel) saja dari suatu kompleksitas yang seharusnya diukur, lagi pula pengukuran dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Maka dapat terjadi salah satu aspek yang sifatnya menonjol yang dimi liki siswa tidak termasuk dalam sampel pe¬ngukuran. Inilah yang disebut sampling error dalam evaluasi.

5. Evaluasi adalah alat, bukan tujuan.

Evaluator menyadari sepenuhnya bahwa tiap-tiap teknik evaluasi digunakan sesuai dengan tujuan evaluasi. Hasil evaluasi yang diperoleh tanpa tujuan tertentu akan membuang waktu dan uang, bahkan merugi¬kan anak didik. Maka dari itu yang perlu dirumuskan lebih dahulu ialah tujuan evaluasi, baru dari tujuan ini dikembangkan teknik yang akan di¬gunakan dan selanjutnya disusun test sebagai alat evaluasi.
Baca Selengkapnya...

PEMANFAATAN ALAT UKUR JANGKA SORONG DAN MIKROMETER SEKRUP

PEMANFAATAN ALAT UKUR JANGKA SORONG DAN MIKROMETER SEKRUP UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN KETELITIAN DALAM KERJA BANGKU

Saim Hidayat (0900661)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA


Abstrak
Pengukuran merupakan suatu kegiatan membandingkan langsung dari benda yang diukur dengan beberapa skala yang asli. tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk memahami definisi mengenai pengukuran, serta bisa memahami dan dapat menggunakan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dengan baik untuk hasil yang lebih teliti lagi. metode penulisan yang digunakan dalam artikel ini, adalah non penelitian dengan mengacu kepada buku –buku sumber sebagai sumber referensi.Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang digunakan di begnkel, dapat digunakan untuk mengukur ukuran luar, ukuran dalam, dan mengukur kedalaman dalam satuan mm ataupun inchi dengan ketelitian sampai 0,1 mm. Mikrometer merupakan alat untuk mengukur ketebalan suatu benda, micrometer dapat mengukur dari ketelitian 0,01 mm sampai0,002 mm.

Kata Kunci : Alat ukur, Jangka sorong, Mikrometer sekrup, dan Kerja Bangku


PENDAHULUAN

Pengukuran merupakan suatu kegiatan membandingkan langsung dari benda yang diukur dengan beberapa skala yang asli. Untuk pengerjaan di bengkel yang pengukurannya dengan ketelitian yang rendah biasanya menggunakan pengukurun dengan penggaris besi, dan untuk pengerjaan dengan ketelitian yang lebih teliti lagi, itu bisa menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup. Ketika seeorang menggunakan penggaris besi dalam melakukan pengukurannya, mungkin tidak ada kesulitan karena memang itu hanyya mengunakan ketelitian rendah yaitu 1 mm. tetapi ketika seseorang menggunakan alat ukur dengan ketelitian yang lebih teliti lagi, terkadang mereka mengalami kesulitan – kesulitan dalam perhitungannya karena memang alat ukur tersebut menggunakan ketelitian yang lebih teliti yaitu mulai dari 0,1 mm hingga 0,01 mm, dan itu memerlukan pemanfaatan alau ukur jangka sorong dan micrometer sekrup.

Dengan demikian, artikel ini ditulis agar kita dapat memahami dan dapat memanfaatkan alat ukur denga ketelitian yng tinggi ini. Sehingga hasil benda yang dikerjakannyapun akan lebih berkualitas dan bernilai lebih.

Rumusan masalah dalam artikel ini adalah apa yang dimaksud dengan pengukuran?, serta apa manfaat dan bagaimana cara memanfaatkan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup?

Dengan tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk memahami definisi mengenai pengukuran, serta bisa memahami dan dapat menggunakan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dengan baik untuk hasil yang lebih teliti lagi.

Manfaat yang dapat diambil dari artikel ini yaitu agar pembaca dapat sedikit terbantu dalam hal bagaimana pemanfaatan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam mengukur suaru benda kerja di bengkel. Sehingga menghasilkan benda kerja yang lebih baik dan dengan kualitas yang tentinya lebih tinggi pula.

Adapun metode penulisan yang digunakan dalam artikel ini, adalah non penelitian dengan mengacu kepada buku –buku sumber sebagai sumber referensi.

PEMBAHASAN

Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang menunjukakan perbandingan langsung dari benda yang diukur langsung dengan beberapa skala asli. Untuk pengukuran dengan ketelitian rendah, penggaris besi sangat sering digunakan. Karena penggaris besi itu merupakan salah satu alat ukur dengan ketelitian 1 mm. dan jika ingin mnghasilkan hasil yang lebih berkualitas, yaitu dengan menggunakan pengukuran degan alat ukur yang memiliki ketelitian yang lebih teliti lagi.

Alat yang dapat digunakan dalam pengukuran ini yaitu alat ukur jangka sorong dan mickrometer sekrup.

A. Jangka Sorong

Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang digunakan di begnkel, dapat digunakan untuk mengukur ukuran luar, ukuran dalam, dan mengukur kedalaman dalam satuan mm ataupun inchi. Jangka sorong umumnya terdiri dari batang pengukur yang terbuat dari baja anti karat yang dikeraskan, mempunyai rahang ukur tetap pada salah satu ujungnya dan bagian yang bergerak yang mempunyai rahang ukur dan skala nonius.

Skala nonius digerakan dalam satu bagian (unit) sepanjang batang sampai kedua rahangnya bertemu benda kerja yang diukur. Umumnya dua macam skala dibuat dalan batang, satu dalam mm dan satunya lagi dalam inchi. Bagian ang bergerak juga mempunyai dua macam skala nonius, yaitu dalam mm dan inchi mengikuti skala dari batang.

Macam – macam jangka sorong yang umum digunakan adalah :

Ø Jangka sorong dengan rahang normal dan rahang pisau.

Ø Jangka sorong dengan rahang normal dan berbentuk “bevel” dimuka, rahang silang dan batang kedalaman.

Adapun bagian – bagian dari Jangka sorong ini yaitu :



Gambar 1

Keterangan :

a. pengukuran dalam

b. skala nonius (inchi)

c. mur penencang

d. batang pengukur

e. batang geser

f. skala onius (mm)

g. rahang bergerak

h. pengukuran dalam

i. batang kedalaman

j. rahang tetap

Skala nonius adalah skala yang kedua. Pembagian garisnya lebih pendek dari pembagian garis pada skala utama. Perbedaan dari kedua skala ini adalah untuk memungkinkan mengukur benda kerja dengan lebih teliti lagi. Ketelitian dari skala nonius ada bermacam – macam, diantaranya :

dalam millimeter (mm) :

1/10 = 0,1 mm;

1/20 = 0,2 mm;

1/50 = 0,05 mm.

dan dalam inchi:

1”/128, dan

1”/1000.

Cara – cara menggunakan jangka sorong :

Untuk ukuran luar.

1. Gunakan bagian dalam dari pengukur untuk mencegah kesalahan pada bagian mulut.

2. Gunakan rahang pisau. Kesalahan terjadi apabila menggunakan rahang yang tidak berbentuk pisau.

3. Mengukur tegak lurus kepada pusat, dari poros – poros tersebut, akan mendapatkan hasil yang benar.

Untuk ukuran dalam.

1. Mengukur dengan bagian luar dari rahang pengukur ditambah tebal dari rahang – rahang itu sendiri.

2. Untuk lubang yang lebih kecil dari 10 mm diukur dengan rahang silang.

3. Untuk mengukur kedalaman, gunakanlah batang kedalaman dalam posisi tegak lurus.

Untuk contoh cara perhitungannya yaitu :

Berapakah besar ukuran benda, jika pada gambar jangka sorong dibawah memiliki ketelitian 1/10 mm dan 1/128 inchi.

Penyelesaiannya :

untuk ketelitian 1/10 mm.

>Lihat pada skala utama, mana garis yang lurus dengan angka nol pada skala nonius (mm)

>Lihat pada skala nonius, garis mana yang lurus dengan garis pada skala utama kemudian di kalikan dengan 1/10 mm.

>Kemudian jumlahkanlah keduanya.

Dari contoh gambar di atas, dapat dihitung :

Ø Skala Utama = 61,0 mm

Ø Skala Nonius = 0,8 mm à didapat dari (8 x 1/10 = 0,8 mm) +

Hasilnya = 61,8 mm.

untuk ketelitian 1/128 inchi

Ø Lihat pada garis ke berapa pada skala utama yang lurus dengan angka nol pada skala nonius (inchi), kemudian kalikan dengan 1/16.

Ø Lihat pada garis skala nonius, pada garis ke berapa yang lurus dengan skala utama, kemudian kalikan dengan 1/128.

Ø Jumlahkan keduanya.

Dari gambar diatas, maka dapat dihitung :

> Skala Utama = 39 x 1/16 = 39/16

> Skala Nonius = 0 x 1/128 = 0 +

Hasilnya = 39/16

= 2 7”/16

B. Mikrometer Sekrup

Mikrometer merupakan alat untuk mengukur ketebalan suatu benda. Pada industri – industri modern, dituntut ketelitian dari alat – alat ukur untuk mengukur pekerjaan yang presisi. Jangka sorong tidak dapat dipergunakan untuk pembacaan dengan ketelitian 0,01 mm dengan tepat. Maka dibuatlah Mikrometer, sebab dengan micrometer dapat mengukur dari ketelitian 0,01 mm sampai 0,002 mm. Kekurangan dari micrometer ini adalah jarak pengukurannya pendek, hanya sampai 25 mm(bagian luar micrometer).

Mikrometer terdiri dari bentuk dasar bingkai U dengan landasan tetap, pada cabangnya terdapat batang pengukur dan pada ujungnya terdapat rahang bergerak, dan melalui cabang lain dari bingkai U, terdapat bidal/sarung pengukur yang terpasanga pada batang pengukur.

Putaran dari bidal/sarung pengukur tersebut menyebabkan batag pengukur berputar berputar pada sumbu yang sama. Tingkatan ukuran pada bidal/sarung pangukur dan pada laras skala dapat dibaca sebagai jarak antara dua permukaan yang diukur. Bimgkai dilindungi oleh penahan panas yang terbuat dari plastic untuk menghindari panas yang timbul langsung ari badan. Gigi geser menjamin meretanya tekanan dan menyebabkan pengukuran bebas dari ‘sentuhan/touch operator’.

Adapun bagian – bagian dari mikrometer adalah seperti yang tampak pada gambar 2, yaitu.

Gambar 2

Keterangan :

1. Bingkai,

2. Landasan tetap,

3. Batang pengukur,

4. Rahang yang bergerak,

5. Rahang yang tetap,

6. Bidal/sarung pengukur,

7. Laras skala,

8. Penahan panas,

9. Gigi geser, dan

10. Tangkai pengunci..

Sifat – Sifat Teknik dari Mikrometer :

1. Batang Mikrometer, dibuat dari baja campuran yang dikeraskan dengan baik. Tegangan – tegangan didalamnya dihilagkan atau dikurangi, ulir – ulir digerinda beberapa kali pada mesin - mesin gerinda yang presisi. Kerataan dan kesejajaran dari permukaan – permukaan ukur diperiksa dengan lena datar untuk menjamin ketelitian yang tinggi. Permukaan – permukaan ukur sering menggunakan baha “tungsten carbida”.

2. Mur pengatur dan lengan pengarah (guide – sleeve) digunakan untuk mengarahkan batang micrometer dengan baik, mur pengatur ini juga digunakan unuk mengatur agar getaran pada batang mikrometer dapat dikurangi., sehingga benda dapat diam pada rahang mikrometer.

Pembagian pada Mikrometer :

Laras mempunyai skala untuk sejumlah milimeter dan skala yang lain untuk setengah millimeter, dan sarung pengukur dibagi kedalam 50 bagian melingkar. Kisar pengukur pada mikrometer biasanya 0,5 mm, satu putaran dari batang pengukur dapat menyebabkan batang pengukur tersebut bergerak 0,5 mm, arah memanjang.

Satu putaran penuh dari sarung pengukur adalah 0,5 mm, maka :

1 bagian = 0,5mm : 50 = 50/100 : 50 = 1/100 mm = 0,01 mm.

Pembacaan ukuran :


Jumlah (mm) pada laras skala + Tengahan (mm) + Perseratusan (mm) pada sarung pengukur.



Macam – Macam Tipe dari Mikrometer :

Mikrometer Pembacaan Langsung

Mikrometer ini dilengkapi dengan penunjukkan angka (digit mechanism) yang dapat menghilangkan kesalahan pembacaan. Millimeter ditunjukkan pada laras skala, perpuluhan dari millimeter terdapat pada bagian yang berangka dan perseratusan dapat dibaca pada sarung pengukur, dan perseribuan pada millimeter terdapat pada “vernier”nya.

Mikrometer dengan Penunjukan Angka

Pembacaan dari kiri ke kanan ditunjukkan pada laras skala. Semua pecahan dari milimeter (0,1 mm dan 0,01 mm) terdapat pada bagian yang berangka.

Mikrometer Angka ( All – digit Mikrometer)

Semua angka menunjukkan millimeter, persepuluhan dan perseatusan, hingga dua perseribu yang semuanya ditunjukan pasa skala micrometer.

Mikrometer dengan Rahang yang bisa diganti – ganti

Mikrometer ini dilengkapi dengan batang rahang yang berbeda – beda panjangnya, untuk mengukur sampai panjang 100 mm. Setiap batang rahang mempunyai perbedaan 25 mm dan ketelitian 0,01 mm. Mikrometer seperti ini ada yang mengukur sampai dengan 1500 mm.

Cara – Cara Memegang dan Mengatur Mikrometer

Benda kerja bebas : satu tangan, kelingking dan jari manis dari tangan kanan memegang mikrometer, jari yang lain memutar sarung pengukur atau gigi geser dan tangan kiri memegang benda kerja.
Benda kerja tercekam : dua tangan, kedua tangan dapat digunakan. Pegang mirometer dengan tangan kiri dan tangan kanan, digunakan untuk memutar gigi geser.
Benda kerja yang banyak : pemegang mikrometer digunakan untuk mempercepat pengukuran dari sejumlah kerja yang sama. Tangan kiri memegang benda kerja dan tangan kanan memegang gigi geser.

Membersihkan dan Penyetelan Mikrometer

Membersihkan

Jike mikrometer digunakan setiap hari, maka micrometer tersebut akan kotor dan tentunya harus selalu dibersihkan dalamnya setiap dua atau tiga bulan. Dengan langkah –langkah sebagai berikut :

1) Buka gigi geser,

2) Buka sarung pelindung,

3) Kendorkan baut,

4) Lepaskan sarung pengukur,

5) Lepaskan batang pengukur dari bingkai,

6) Bersihkan batang pengukur dan murnya dengan bensin dan gunakan kuas yang lembut, kemudian lapisi batang pengukur tersebut dengan oli yang bebas dari asam – asam seperti “Velocite 6”,

7) Pasang batang pengukur. Dalam pemasangan ini haruslah hati – hati agar rahang yang bergerak tidak rusak dan kuncilah batang pengukur dengan pengunci H, bila batang pengukur sudah terpasang,

8) Pasang sarung pengukur dengan hati – hati,

9) Pasang gigi geser, dan

10) Setel micrometer tersebut pada posisi nol, kencangkan baut dan pasang sarung pelindung.

Penyetelan

Penyetelan dapat dilakukan dengan langkah – langka sebagai berikut :

1) Bersihkan kedua rahang,

2) Stel pada posisi nil dengan gigi geser,

3) Kunci batang pengukur dengan pengunci penyimpangan kecil,

4) a. Pada penyimpangan kecil, putar laras skala dengan pemutar sampai dengan posisi yang tepat.

b. Pada penyimpangan yang besar :

> Buka sarung pelindung,

> Kendorkan baut,

> Stel sarung pengukur,

>Kencangkan baut, dan

> Pasang sarung pelindung.

5) Kendorkan batang pengukur dari pengunci, dan

6) Periksa pengukuran/pembacaan.

Catatan : Untuk mikrometer yipe yang lainnya, herus hati – hati dalam menjalankan instuksi – instruksinya.

Contoh Pembacaan alat ukur Mikrometer :

Berapakah ukuran benda pada mikrometer disamping.

Text Box: Jumlah (mm) pada laras skala + Tengahan (mm) + Perseratusan (mm) pada sarung pengukur. Penyelesainnya :

Maka didapatkan :

16 + 0,5 + 0,22 = 16, 72 mm.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan :

· Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang menunjukakan perbandingan langsung dari benda yang diukur langsung dengan beberapa skala asli.

· Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang digunakan di begnkel, dapat digunakan untuk mengukur ukuran luar, ukuran dalam, dan mengukur kedalaman dalam satuan mm ataupun inchi.

· Ketelitian dari skala nonius ada bermacam – macam, diantaranya :

dalam millimeter (mm) :1/10 = 0,1 mm; 1/20 = 0,2 mm; dan 1/50 = 0,05 mm.

dan dalam inchi :1”/128, dan 1”/1000.

· Mikrometer merupakan alat untuk mengukur ketebalan suatu benda yang dapat mengukur dari ketelitian 0,01 mm sampai 0,002 mm.

· Kekurangan dari micrometer ini adalah jarak pengukurannya pendek, hanya sampai 25 mm(bagian luar micrometer).

· Pembacaan ukuran :


Jumlah (mm) pada laras skala + Tengahan (mm) + Perseratusan (mm) pada sarung pengukur.



B. Saran

Dalam penulisan artikel ini, masih kurang dalam hal sumber referensi, karena penulis dalam penulisan artikel ini hanya menggunalan satu sumber saja, untuk kedepannya penulis akan menggumakan lebih banyak lagi sumber referensi, dan tidak hanya menggunakan satu sumber saja.

Untuk pembaca, koreksi dan tanggapannya ataupum saran – sarannya sangat diharapkan penulis, itu semua agar dalam penulisan artikel – artikel selanjutnya dapat lebih baik lagi.

PUSTAKA RUJUKAN

Husen, Asep Setiadi. dkk. (tanpa Tahun). Fabrikasi Logam (Materi Perkuliahan). Bandung: tidak diterbitkan.
Baca Selengkapnya...