Salam

===---بسم ا لله الرحمن ا لر حيم ___ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ---===

Sabtu, 16 Juli 2011

KOMPONEN – KOMPONEN PEMBELAJARAN

KOMPONEN – KOMPONEN PEMBELAJARAN

RESUME

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran semester 3 (ganjil)

Dosen Pembimbing Prof. Dr. H. As’ari Djohar, M. Pd.

Disusun oleh:

Kelompok 7

Fendy Thomas (0909155)

M Slamet Raharjo (0908928)

Saim Hidayat (0900661)


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2010

URAIAN

Istilah pembelajaran merupakan terjemahan kata “instruction”. Menurut Arief S. Sadiman, kata pengajaran hanya ada didalam konteks guru-murid di kelas formal, sedangkan kata pembelajaran tidak hanya itu, akan tetapi juga meliputi kegiatan belajar mengajar yang tidak dihariri oleh guru secara fisik, didalam kata pembelajaran ditekankan pada kegiatan belajar siswa melalui usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar. Di pihak lain ada yang berpandangan bahwa kata pembelajaran dan kata pengajaran pada hakekatnya sama, yaitu suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam mencapaian guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai

tujuan yang telah ditentukan.

Kedua pandangan tersebut dapat digunakan, yang terpenting adalah interaksi yang terjadi antara guru dan murid itu harus adil, yakni adanya komunikasi yang timbale balik antara keduanya, baik secara langsung ataupun tidak langsung atau melalui media. Jangan selalu menganggap siswa sebagai subjek belajaryang tidak tahu apa-apa, akan tetapi siswa itu memiliki latar belakang, minat, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda. Peranan guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Setelah guru mempelajari kurikulum yang berlaku, selanjutnya membuat suatu desain pembelajaran dengan mempertimbangkan kemampuan awal siswa (entering behavior), tujuan yang hendak dicapai, teori belajar dan pembelajaran, karakteristik bahan yang akan diajarkan, metode dan media atau sumber belajar yang akan digunakan, dan unsure-unsur lainnya sebagai penunjang. Dalam hal ini ada dua kegiatan utama, yaitu guru bertindak mengajar dan siswa bertidak belajar. Kedua kegiatan tersebut berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Pada akhirnya implementasi pembelajaran itu akan menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil ini akan memberikan dampak bagi guru dan siswa.

Bagi guru sebagai dampak pembelajaran berupa hasil yang dapat diukur sebagai data hasil belajar siswa (angka/nilai) dan berupa masukan bagi pengembangan pembelajaran selanjutnya. Sedangkan bagi siswa sebagai dampak pengiring berupa terapan pengetahuan dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu transfer belajar yang akan membantu perkembangn mereka mencapai keutuhan dan kemandirian. Jadi, ciri utama dari kegiatan pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi yang terjadi antara pelaku yang belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan guru, teman-temannya, tutor, media pembelajaran, dan sumber-sumber belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lainnya dari pembelajaran ini berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Dimana didalam pembelajaran akan terdapat komponen-komponen sebagai berikut; tujuan, materi/bahan ajar, metode dan media, evaluasi, anak didik,/siswa, dan adanya pendidik atau guru.

Sebagai sebuah system, masing-masing komponen tersebut membentuk sebuah integritas atau satu kesatuan yang utuh. Masing-masing komponen saling berinteraksi yaitu saling berhubungan secara aktif dan saling mempengaruhi. Misalnya dalam menentukan bahan pembelajaran merujuk pada tujuan yang telah ditentukan, serta bagaimana materi itu disampaikan akan menggunakan strategi yang tepat yang didukung oleh media yang sesuai. Dalam menentukan evaluasi pembelajaran akan merujuk pada tujuan pembelajaran, bahan yang disediakan media dan strategi yang digunakan, begitu juga dengan komponen yang lainnya saling bergantung dan saling terobos.

1. Tujuan Pembelajaran

a. Hirarki Tujuan

Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai, oleh kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini antara lain upaya mencapai tujuan-tujuan lain yang lebih tinggi tingkatannya, yakni tujuan pendidikan dan tujuan pembangunan nasional. Tujuan-tujuan itu bertingkat, berakumulasi, dan bersinergi untuk menuju tujuan yang lebih tinggi tingkatannya, yakni membangun manusia/peserta didik yang sesuai dengan yang dicita-citakan.

1. Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dan didasari oleh falsafah negaraindonesia (pancasila).

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

2. Tujuan Institusional/Lembaga

Tujuan institusional merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap sekolah atau lembaga pendidikan. Tujuan institusional ini merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan sesuai dengan jenis dan sifat sekolah atau lembaga pendidikan. Tujuan institusional ini sifatnya lebih kongkrit dari tujuan pendidikan nasional. Tujuan institusional ini dapat dilihat dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan.

3. Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi. Tujuan ini dapat dilihat dari GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) setiap bidang studi. Tujuan kurikuler merupakan penjabaran dari tujuan institusional, sehingga kumulasi dari setiap tujuan kurikuler ini akan menggambarkan tujuan institusional.

4. Tujuan Instruksional/Pembelajaran

Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan instruksional/pembelajaran. Tujuan ini sering kali dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu:

a) Tujuan Instruksional Umum

Tujuan instruksional umum adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya masih umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan instruksional umum ini dapat dilihat dari tujuan setiap pokok bahasan suatu bidang studi yang ada didalam GBPP.

b) Tujuan Instruksional Khusus

Tujuan instruksional khusus merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum. Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksud agar tujuan instruksional umum tersebut dapat lebih dispesifikan dan mudah diukur tingkat ketercapaiannya. Untuk memudahkan guru dalam mengembangkan dan merumuskan tujuan pembelajaran khusus ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan patokan, yaitu :

· Menggunakan kata kerja operasional

· Harus dalam bentuk hasil belajar, bukan apa yang dipelajari

· Harus berbentuk tingkah laku siswa, bukan tingkah laku guru.

· Hanya meliputi satu jenis kemampuan, agar mudah dalam menilai pencapaian tujuan.

Untuk memudahkannya dapat dilakukan dengan memilah empat komponen, yaitu ABCD,

A = Audience; sasaran siapa yang belajar. Dirumuskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan belajar itu diarahkan.

B = Behavior; perilaku spesifik yang diharapkan dilakukan siswa setelah KMB. Rumusan perilaku ini mencakup kata kerja aktif transitif dan objeknya.

C = Condition; keadaan/ syarat yang harus dipenuhi atau dikerjakan siswa saat dites.

D = Degree; batas minimal tingkat keberhasilan terendah yang harus dipenuhi dalam mencapai perilaku yang diharapkan, penentuan tergantung pada; jenis bahan materi, penting tidaknya materi, tinggi rendahnya sekolah, sifat kemampuan yang harus dimiliki.

Seiring dengan perkembangan yang ada saat ini, pemerintah pusat tidak lagi menyusun kurikulum nasional, tetapi hanya menetapkan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) dan Standar Isi berikut Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap mata pelajaran. Kurikulum dikembangkan oleh masing-masing sekolah/madrasah yang dikenal dengan nama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan silabusnya.



2. Bahan Pembelajaran

Bahan pembelajaran pada dasarnya adalah ”isi” dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/ sub topikdan rinciannya. Secara umum isi kurikulum itu dapat dipilah menjadi tiga unsur utama, yaitu logika, etika yang berupa muatan nilai moral, dan estetika yang berupa muatan nilai seni. Sedangkan bila memilah berdasarkan taksonomi bloom dkk, bahan pembelajaran itu berupakognitif (pengetahuan), afektif (sikap/nilai), dan psikomotor (keterampilan). Bila dirinci lebih lanjut, isi kurikulum atau bahan pembelajaran itu dapat dikategorikan kedalam 6 jenis, yaitu; fakta, konsep/teori, prinsip, proses, dan nilai serta keterampilan.

a. Fakta adalah sesuatu yang telah terjadi, bisa berupa objek atau keadaan suatu hal.

b. Konsep/teori adalah suatu ide atau gagasan yang menjelaskan serangkaian fakta yang harus memadukan, universal, dan meramalkan.

c. Prinsip merupakan suatu aturan/kaidah untuk melakukan sesuatu sebagai titik tolak untuk berfikir.

d. Proses adalah serangkaian gerakan, perubahan, perkembangan atau suatu cara/prosedur untuk melakukan suatu kegiatan secara rasional.

e. Nilai adalah suatu pola, ukuran norma, atau suatu tipe/model, yang berkaitan dengan pengetahuan atas kebenaran yang bersifat umum.

f. Keterampilan adalah suatu kemampuan untuk berbuat sesuatu, baik dalam pengertian fisik maupun mental.

Tugas guru disini adalah memlih dan mengembangkan bahan pembelajaran dengan pertimbangan kriteria sebagai berikut; relevansi (secara psikologis dan sosiologis), kompleksitas, rasional/ilmiah, fungsional, ke-up to date-an, dan komprehensif/ keseimbangan. Sedangkan pengembangan bahan ajar itu sendiri dapat disusun dengan menggunakan suatu sekuen bahan ajar yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu sekuen kronologis, sekuen kausal, sekuen struktural, sekuen logis dan psikologis, sekuen spiral, dan lain-lain.

Dalam pengembangan dan pemanfaat bahan pembelajaran, guru dapat melakukannya dengan dua cara, yaitu sumber-sumber belajar yang dirancang dan dikembangkan untuk kepentingan pembelajaran dan sumber-sumber pembelajaran yang ada dilingkungan sekitar yang dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.

3. Strategi dan Metode Pembelajaran

Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan salah satu komponen didalam system pembelajaran, yang tidak dapat dipisahkan dari komponen lain didalam system tersebut.

Strategi pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor Tujuan

Tujuan pengaaran menggambarkan tingkah laku yang harus dimiliki siswa setelah prose belajar mengajar selesai dilaksanakan. Seperti yang kita ketahui tingkah laku yang harus dimiliki siswa dapat dikelompokan kedalam beberapa kelompok, antara lain:

a) Tujuan untuk aspek pengetahuan, sebagai contoh: dalam hal kebersihan, siswa dapat menjelaskan konsep kebersihan.

b) Tujan untuk aspek keterampilan, sebagai contoh: dalam hal kebersihan, siswa dapat membersihkan ruangan kelas.

c) Tujuan untuk aspek sikap, sebagai contoh: dalam hal kebersihan, siswa bisa menghargai kebersihan.

b. Faktor Materi

Dilihat dari hakekatnya, ilmu atau materi pelajaran memilki karakteristik yang berbeda. Karakteristik ilmu atau materi pelajaranbmembawa implikasi terhadap penggunaan cara dan teknik didalam proses belajar mengajar. Mungkin atas dasar inilah tiap bidang studi atau mata pelajaran memiliki strategi yang berbeda dengan mata pelajaran lain, sehingga muncul metodik khusus mata pelajaran, seperti metodik khusus IPA, metodik khusus Matematika, metodik khusus IPS, dan sebagainya.

Secara teoritis didalam ilmu atau mata pelajaran terdapat beberapa sifat materi, yaitu fakta, konsep, prinsip, masalah, prosedur(keterampilan), dan sikap (nilai). Mengajarkan materi – materi tersebut berbeda yang satu dengan yang lainnya bergantung kepada sifatnya.

c. Faktor Siswa

Metode dan teknik yang digunakan didalam proses belajar mengajar antara lain bergantung pada jumlah siswa. Metode dan teknik yang digunakan didalam proses belajar mengajar dengan jumlah siswa puluhan siswa akan berbeda dengan metode dan teknik didalam proses belajar mengajar dengan jumlah siswa beberapa orang saja.

Dalam hal ini dipertimbangkan bahwa:

a) Siswa sebagai keseluruhan, dalam arti segala aspek pribadinya diperhatikan secara utuh.

b) Siswa sebagai pribadi tersendiri, setiap siswa memiliki perbedaan dari yang lain dalam hal: kemampuan, tata belajar, kebutuhan, dan sebagainya yang berkaitan erat dengan proses belajar mengajar.

c) Tingkat per4kembangan siswa akan mempengaruhi proses pembelajaran.

d. Faktor Fasilitas

Faktor fasilitas turut menentukan proses dan hasil belajar. Jika kita merencanakan akan menggunakan metode demonstrasi didalam mengajarkan suatu keterampilan tertentu kepada siswa dengan menggunakan alat – alat pelajaran yang telah ditetapkan, akan tetapi ternyata alat – alatnya itu kurang lengkap atau sama sekali tidak ada, maka proses yang telah direncanakan sudah tentu tidak dapat dilaksanakan sebagaimana semestinya dan hasilnyapun tidak akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

e. Faktor Waktu

Faktor waktu dapat dibagi dua, yaitu yang menyangkut jumlah waktu dan kondisi waktu. Hal yang menyangkut jumlah waktu ialah beberapa puluh menit atau beberapa jam pelajaran waktu yang tersedia untuk proses belajar mengajar tersebut. Sedangkan yang menyangkut kondisi waktu, ialah kapa atau pukul berapa proses belajar mengajar itu dilaksanakan, apakah pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Maka sudah tentu kondisinya akan berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi terhadap proses belajar mengajar taid.

f. Faktor Guru

Faktor guru adalah salah satu faktor penentu, pertimbangan semua faktor diatas akan sangat bergantung kepada kreativitas guru. Dedikasi dan kemampuan gurulah yang pada akhirnya mempengaruhi pelaksanaan proses pembelajaran.

4. Beberapa Strategi Pembelajaran dan Metode Mengajar

Beberapa contoh stratgi penbelajaran dan metode mengajar yang dapat digunakan sebagai alternatif upaya pencapaian tujuan pembelajaran, antara lain:

a. Strategi Ekspositoril Klasikal

Dalam strategi ini, klasikal klasikal lebih banyak menjlaskan pesan yang sebelumnya telah diolah sendiri, sementara siswa lebih banyak menerima pesan yang telah jadi. Strategi seperti ini biasanya apabila:

a) Jumlah siswa cukup banyak.

b) Sumber pelajaran jumlahnya sangat terbatas, apalagi jika hanya satu yang dipergunakan olh guru.

c) Media lain tidak ada kecuali buku sumber yang dipergunakan oleh guru dan papan tulis.

d) Waktu yang tersedia sangat sedikit dibanding dengan meteri pelajaran yang relatif banyak dengan tujuan yang ingin dicapai lebih banyak bersifat pengetahuan.

Bila strategi pembelajaran seperti ini terpaksa harus dilakukan, disarankan:

a) Guru harus menguasai meteri pelajaran sepenuhnya.

b) Selingi dengan tanya jawab supaya siswa lebih aktif.

c) Berian tugas yang wajib dikerjakan siswa pada saat itu atau diluar jam pelajaran.

d) Berikan balikan terhadap pekerjaan siswa yang telah dikoreksi.

e) Berikan kesempatan pada siswa yang menghadapi kesulitan untuk berkonsultasi diluar jam pelajaran.

f) Harus disadari bahwa strategi belajar mengajar seperti itu lebih cocok untuk aspek kognitif tingkat rendah.

b. Strategi Heuristik

Terdapat dua sub strategi belajar mengajar pada strategi heuristik, yaitu Discovery dan Inquiri atau metode penyelidikan. Sund (1975) mengemukakan bahwa Discovery adalah proses mental, dimana individu mengasimilasi konsep dan prinsip. Atau dengan kata lainproses diskoveri terjadi apabila siswa terlibat dalam proses mentalnyauntuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

Kegiatan diskoperi sering terjadi pada pelajaran IPA di laboratorium dimana siswa mencari konsep atau prinsip dengan petunjuk langkah – langkah yang harus dilakukan, yang disebut juga guided discovery inquiri laboratory lesson. Inquiry mengandung proses – proses mental yang lebih tinggi tingkatannya daripada Discovery, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, menganalisis data, dan menari kesimpulan. Disertai sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka. Jadi inquiri adalah perluasan proses diskoperi yang digunakan dengan cara yang lebih terbuka.

c. Metode Tanya Jawab

Metode ini merupakan metode mengajar yang mempunyai peranan meningkatkankadar berfikir siswa. Metode tanya jawab dapat digunakan untuk:

a) Mendiagnose perkembangan siswa.

b) Menentukan tingkat kemampuan kognitif siswa.

c) Menetapkan studi tambahan. dan

d) Memperkaya materi pelajaran.

Menurut Donald C. Orlich (1990: 195) semua pertanyaan dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori dasar, yaitu (1) convergent, (2) divergen, dan (3)evaluative. Pola pertanyaan convergent terfokus pada tujuan yang lebih terbatas atau lebih terarah kepada jawaban tertentu. Pola pertanyaan divergent terarah kepada respon siswa yang bervariasi terhadap pertanyaan guru, tiap siswa dapat merespon berbeda dari yang lain. Sedangkan pola pertanyaan evaluative merupakan pertanyaan divergent yang ditambah dengan evaluasi berdasarkan kriteria.



5. Kriteria Penggunaan Strategi Pembelajaran dan Metode Mengajar

Proses belajar mengajar yang baik harus memiliki dan memenuhi sejumlah kriteria, antara lain:

a. Memiliki relevansi epistemologis yang tinggi,

b. Memiliki tingkat relevansi psikologis,

c. Memiliki tingkat relevansi sosiologis.



6. Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan betuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara, dan juga media merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar. “Media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan , dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut”(Sweden,1997:11). Selain itu, menurut Moedjiono, & Moh. Dimyati (1991/1992: 2), “Media yakni bahan pembelajaran dengan atau tanpa peralatan yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada para siswa agar mereka dapat mencapai tujuan”.

“Media pembelajaran adalah segala sesuatu (alat/sarana) yang dapat befungsi sebagai saluran / perantara komunikasi dalam kegiatan pendidikan agar dapat berlangsung secara efisien dan efektif ”(Moedjiono dan Surijanta, 1992).

Penulis dapat menyimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat / perantara yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan materi pelajaran kepada para siswa agar mereka dapat mencapai tujuan dari proses belajar mengajar.

Media pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa bagian :

a. Media Visual adalah media yang hanya dapat delihat dengan menggunakan indera penglihatan.Media ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan (non –projected visual) dan media yang dapat diproyeksikan (projected visual),berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion pictures).

b. Media Audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Ada beberapa pertimbangan bila ingin menggunakan media ini, antara lain :

· media ini hanya akan mampu melayani mereka yang sudah mempunyai kemampuan dalam berpikir abstrak

· media ini memerlukan pemusatan perhatian yang lebih tinggi dibanding media lainnya

· karena sifatnya auditif, diperlukan pengalaman-pengalaman secara visual untuk memperoleh hasil belajar yang baik

c. Media Audio-Visual merupakan kombinasi audio dan visual atau media pandang-dengar. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (teacher) tetapi karena penyajian materi bisa diganti oleh media, maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar. Slide bersuara merupakan salah satu contoh dari media pembelajaran yaitu media audio- visual.

d. Kelompok Media Penyaji. Donald T. Tosti dan John R. Ball mengelompokkan media menjadi tujuh kelompok,yaitu :

· Kelompok kesatu : grafis, bahan cetak dan gambar diam

· Kelompok kedua : media proyeksi diam

· Kelompok ketiga : media audio

· Kelompok keempat : media visual

· Kelompok kelima : media gambar hidup/film

· Kelompok keenam : media televisi

· Kelompok ketujuh : multi media

e. Media Objek dan Media Interaktif

· Media Objek : media tiga dimensi yang menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri fisiknya sendiri, seperti ukurannya, bentuknya, beratnya. Media ini terbagi menjadi dua yaitu objek alami yang hidup contohnya ikan, burung, dll dan objek alami yang tidak hidup contohnya batu-batuan,kayu, dll.

· Media Interaktif : karakteristik dari media ini adalah siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek saja, melainkan juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran.Sedikitnya ada tiga macam interkasi, yaitu

1. Menunjukkan siswa berinteraksi dengan sebuah program

2. Siswa berinteraksi dengan mesin

3. Mengatur interaksi antar siswa secara teratur tapi tidak terpogram.

7. Evaluasi Pembelajaran

a. Pengertian Evaluasi dan Pengukuran

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif.

Menurut pengertian bahasa kata pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.

b. Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran

· Berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :

1. Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan- kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.

2. Evaluasi selektif adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.

3. Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa

4. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.

5. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.

· Berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran

1.Evaluasi Program Pembelajaran : evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.

2.Evaluasi Proses Pembelajaran : evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3.Evaluasi Hasil Pembelajaran : evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.

· Berdasarkan objek :

1.Evaluasi Input : evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.

2.Evaluasi Transformasi: evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain materi, media, metode dan lain-lain.
3.Evaluasi Output : evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

· Berdasarkan subjek :

1.Evaluasi Internal : evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.

2.Evaluasi Eksternal : evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.

c.Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Tujuan utama evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, taraf perkembangan, atau taraf pencapaian kegiatan belajar siswa. Tujuan khusus evaluasi pembelajaran adalah :

1.Mengetahui kemajuan belajar siswa

2.Mengetahui potensi yang dimiliki siswa

3.Mengetahui hasil belajar siswa

4.Mengadakan seleksi

5.Mengetahui kelemahan atau kesulitan belajar siswa

d. Prinsip-prinsip Umum Evaluasi dalam Pembelajaran

Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara operational. Selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian (value judgement), Karena itu dalam evaluasi diperlukan prinsip-prinsip sebagai petunjuk agar dalam pelaksanaan evaluasi dapat lebih efektif. Prinsip-prinsip itu antara lain:

1. Kepastian dan kejelasan.

Dalam proses evaluasi maka kepastian dan kejelasan yang akan dievaluasi menduduki urutan pertama. Evaluasi akan dapat dilaksanakan apabila tujuan evaluasi tidak dirumuskan dulu secara jelas dalam. definisi yang operational. Bila kita ingin mengevaaluasi kemajuan belajar siswa maka pertama-tama kita identifikasi dan kita definisikan tujuan-tujuan instruksional pengajaran dan barulah kita kembangkan alat evaluasinya.

2. Teknik evaluasi

Teknik evaluasi yang dipilih sesuai dengan tujuan evaluasi. Hendaklah diingat bahwa tidak ada teknik evaluasi yang cocok untuk semua keperluan dalam pendidikan. Tiap-tiap tujuan (pendidikan) yang ingin dicapai dikembangkan teknik evaluasi tersendiri yang cocok dengan tujuan tersebut. Kecocokan antara tujuan evaluasi dan teknik yang digunakan perlu dijadikan pertimbangan utama.

3. Komprehensif.

Evaluasi yang komprehensif memerlukan tehnik bervariasi. Tidak adalah teknik evaluasi tunggal yang mampu mengukur tingkat kemampuan siswa dalam belajar, meskipun hanya dalam satu pertemuan jam pelajaran. Sebab dalam kenyataannya tiap-tiap teknik evaluasi mempunyai keterbatasan-keterbatasan tersendiri. Test obyektif misalnya akan mem¬berikan bukti obyektif tentang tingkat kemampuan siswa. Tetapi hanya memberikan informasi sedikit dari siswa tentang apakah ia benar-benar mengerti tentang materi tersebut.

4. Kesadaran adanya kesalahan pengukuran.

Evaluator harus menyadari keterbatasan dan kelemahan dalam teknik evaluasi yang digunakan. Atas dasar kesadaran ini, maka dituntut untuk lebih hati-hati dalam kebijakan-kebijakan yang diambil setelah melaksanakan evaluasi. Evaluator menyadari bahwa dalam pengukuran yang dilaksanakan, hanya mengukur sebaglan (sampel) saja dari suatu kompleksitas yang seharusnya diukur, lagi pula pengukuran dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Maka dapat terjadi salah satu aspek yang sifatnya menonjol yang dimi liki siswa tidak termasuk dalam sampel pe¬ngukuran. Inilah yang disebut sampling error dalam evaluasi.

5. Evaluasi adalah alat, bukan tujuan.

Evaluator menyadari sepenuhnya bahwa tiap-tiap teknik evaluasi digunakan sesuai dengan tujuan evaluasi. Hasil evaluasi yang diperoleh tanpa tujuan tertentu akan membuang waktu dan uang, bahkan merugi¬kan anak didik. Maka dari itu yang perlu dirumuskan lebih dahulu ialah tujuan evaluasi, baru dari tujuan ini dikembangkan teknik yang akan di¬gunakan dan selanjutnya disusun test sebagai alat evaluasi.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar