Salam

===---بسم ا لله الرحمن ا لر حيم ___ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ---===

Sabtu, 16 Juli 2011

PEMANFAATAN ALAT UKUR JANGKA SORONG DAN MIKROMETER SEKRUP

PEMANFAATAN ALAT UKUR JANGKA SORONG DAN MIKROMETER SEKRUP UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN KETELITIAN DALAM KERJA BANGKU

Saim Hidayat (0900661)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA


Abstrak
Pengukuran merupakan suatu kegiatan membandingkan langsung dari benda yang diukur dengan beberapa skala yang asli. tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk memahami definisi mengenai pengukuran, serta bisa memahami dan dapat menggunakan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dengan baik untuk hasil yang lebih teliti lagi. metode penulisan yang digunakan dalam artikel ini, adalah non penelitian dengan mengacu kepada buku –buku sumber sebagai sumber referensi.Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang digunakan di begnkel, dapat digunakan untuk mengukur ukuran luar, ukuran dalam, dan mengukur kedalaman dalam satuan mm ataupun inchi dengan ketelitian sampai 0,1 mm. Mikrometer merupakan alat untuk mengukur ketebalan suatu benda, micrometer dapat mengukur dari ketelitian 0,01 mm sampai0,002 mm.

Kata Kunci : Alat ukur, Jangka sorong, Mikrometer sekrup, dan Kerja Bangku


PENDAHULUAN

Pengukuran merupakan suatu kegiatan membandingkan langsung dari benda yang diukur dengan beberapa skala yang asli. Untuk pengerjaan di bengkel yang pengukurannya dengan ketelitian yang rendah biasanya menggunakan pengukurun dengan penggaris besi, dan untuk pengerjaan dengan ketelitian yang lebih teliti lagi, itu bisa menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup. Ketika seeorang menggunakan penggaris besi dalam melakukan pengukurannya, mungkin tidak ada kesulitan karena memang itu hanyya mengunakan ketelitian rendah yaitu 1 mm. tetapi ketika seseorang menggunakan alat ukur dengan ketelitian yang lebih teliti lagi, terkadang mereka mengalami kesulitan – kesulitan dalam perhitungannya karena memang alat ukur tersebut menggunakan ketelitian yang lebih teliti yaitu mulai dari 0,1 mm hingga 0,01 mm, dan itu memerlukan pemanfaatan alau ukur jangka sorong dan micrometer sekrup.

Dengan demikian, artikel ini ditulis agar kita dapat memahami dan dapat memanfaatkan alat ukur denga ketelitian yng tinggi ini. Sehingga hasil benda yang dikerjakannyapun akan lebih berkualitas dan bernilai lebih.

Rumusan masalah dalam artikel ini adalah apa yang dimaksud dengan pengukuran?, serta apa manfaat dan bagaimana cara memanfaatkan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup?

Dengan tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk memahami definisi mengenai pengukuran, serta bisa memahami dan dapat menggunakan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dengan baik untuk hasil yang lebih teliti lagi.

Manfaat yang dapat diambil dari artikel ini yaitu agar pembaca dapat sedikit terbantu dalam hal bagaimana pemanfaatan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam mengukur suaru benda kerja di bengkel. Sehingga menghasilkan benda kerja yang lebih baik dan dengan kualitas yang tentinya lebih tinggi pula.

Adapun metode penulisan yang digunakan dalam artikel ini, adalah non penelitian dengan mengacu kepada buku –buku sumber sebagai sumber referensi.

PEMBAHASAN

Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang menunjukakan perbandingan langsung dari benda yang diukur langsung dengan beberapa skala asli. Untuk pengukuran dengan ketelitian rendah, penggaris besi sangat sering digunakan. Karena penggaris besi itu merupakan salah satu alat ukur dengan ketelitian 1 mm. dan jika ingin mnghasilkan hasil yang lebih berkualitas, yaitu dengan menggunakan pengukuran degan alat ukur yang memiliki ketelitian yang lebih teliti lagi.

Alat yang dapat digunakan dalam pengukuran ini yaitu alat ukur jangka sorong dan mickrometer sekrup.

A. Jangka Sorong

Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang digunakan di begnkel, dapat digunakan untuk mengukur ukuran luar, ukuran dalam, dan mengukur kedalaman dalam satuan mm ataupun inchi. Jangka sorong umumnya terdiri dari batang pengukur yang terbuat dari baja anti karat yang dikeraskan, mempunyai rahang ukur tetap pada salah satu ujungnya dan bagian yang bergerak yang mempunyai rahang ukur dan skala nonius.

Skala nonius digerakan dalam satu bagian (unit) sepanjang batang sampai kedua rahangnya bertemu benda kerja yang diukur. Umumnya dua macam skala dibuat dalan batang, satu dalam mm dan satunya lagi dalam inchi. Bagian ang bergerak juga mempunyai dua macam skala nonius, yaitu dalam mm dan inchi mengikuti skala dari batang.

Macam – macam jangka sorong yang umum digunakan adalah :

Ø Jangka sorong dengan rahang normal dan rahang pisau.

Ø Jangka sorong dengan rahang normal dan berbentuk “bevel” dimuka, rahang silang dan batang kedalaman.

Adapun bagian – bagian dari Jangka sorong ini yaitu :



Gambar 1

Keterangan :

a. pengukuran dalam

b. skala nonius (inchi)

c. mur penencang

d. batang pengukur

e. batang geser

f. skala onius (mm)

g. rahang bergerak

h. pengukuran dalam

i. batang kedalaman

j. rahang tetap

Skala nonius adalah skala yang kedua. Pembagian garisnya lebih pendek dari pembagian garis pada skala utama. Perbedaan dari kedua skala ini adalah untuk memungkinkan mengukur benda kerja dengan lebih teliti lagi. Ketelitian dari skala nonius ada bermacam – macam, diantaranya :

dalam millimeter (mm) :

1/10 = 0,1 mm;

1/20 = 0,2 mm;

1/50 = 0,05 mm.

dan dalam inchi:

1”/128, dan

1”/1000.

Cara – cara menggunakan jangka sorong :

Untuk ukuran luar.

1. Gunakan bagian dalam dari pengukur untuk mencegah kesalahan pada bagian mulut.

2. Gunakan rahang pisau. Kesalahan terjadi apabila menggunakan rahang yang tidak berbentuk pisau.

3. Mengukur tegak lurus kepada pusat, dari poros – poros tersebut, akan mendapatkan hasil yang benar.

Untuk ukuran dalam.

1. Mengukur dengan bagian luar dari rahang pengukur ditambah tebal dari rahang – rahang itu sendiri.

2. Untuk lubang yang lebih kecil dari 10 mm diukur dengan rahang silang.

3. Untuk mengukur kedalaman, gunakanlah batang kedalaman dalam posisi tegak lurus.

Untuk contoh cara perhitungannya yaitu :

Berapakah besar ukuran benda, jika pada gambar jangka sorong dibawah memiliki ketelitian 1/10 mm dan 1/128 inchi.

Penyelesaiannya :

untuk ketelitian 1/10 mm.

>Lihat pada skala utama, mana garis yang lurus dengan angka nol pada skala nonius (mm)

>Lihat pada skala nonius, garis mana yang lurus dengan garis pada skala utama kemudian di kalikan dengan 1/10 mm.

>Kemudian jumlahkanlah keduanya.

Dari contoh gambar di atas, dapat dihitung :

Ø Skala Utama = 61,0 mm

Ø Skala Nonius = 0,8 mm à didapat dari (8 x 1/10 = 0,8 mm) +

Hasilnya = 61,8 mm.

untuk ketelitian 1/128 inchi

Ø Lihat pada garis ke berapa pada skala utama yang lurus dengan angka nol pada skala nonius (inchi), kemudian kalikan dengan 1/16.

Ø Lihat pada garis skala nonius, pada garis ke berapa yang lurus dengan skala utama, kemudian kalikan dengan 1/128.

Ø Jumlahkan keduanya.

Dari gambar diatas, maka dapat dihitung :

> Skala Utama = 39 x 1/16 = 39/16

> Skala Nonius = 0 x 1/128 = 0 +

Hasilnya = 39/16

= 2 7”/16

B. Mikrometer Sekrup

Mikrometer merupakan alat untuk mengukur ketebalan suatu benda. Pada industri – industri modern, dituntut ketelitian dari alat – alat ukur untuk mengukur pekerjaan yang presisi. Jangka sorong tidak dapat dipergunakan untuk pembacaan dengan ketelitian 0,01 mm dengan tepat. Maka dibuatlah Mikrometer, sebab dengan micrometer dapat mengukur dari ketelitian 0,01 mm sampai 0,002 mm. Kekurangan dari micrometer ini adalah jarak pengukurannya pendek, hanya sampai 25 mm(bagian luar micrometer).

Mikrometer terdiri dari bentuk dasar bingkai U dengan landasan tetap, pada cabangnya terdapat batang pengukur dan pada ujungnya terdapat rahang bergerak, dan melalui cabang lain dari bingkai U, terdapat bidal/sarung pengukur yang terpasanga pada batang pengukur.

Putaran dari bidal/sarung pengukur tersebut menyebabkan batag pengukur berputar berputar pada sumbu yang sama. Tingkatan ukuran pada bidal/sarung pangukur dan pada laras skala dapat dibaca sebagai jarak antara dua permukaan yang diukur. Bimgkai dilindungi oleh penahan panas yang terbuat dari plastic untuk menghindari panas yang timbul langsung ari badan. Gigi geser menjamin meretanya tekanan dan menyebabkan pengukuran bebas dari ‘sentuhan/touch operator’.

Adapun bagian – bagian dari mikrometer adalah seperti yang tampak pada gambar 2, yaitu.

Gambar 2

Keterangan :

1. Bingkai,

2. Landasan tetap,

3. Batang pengukur,

4. Rahang yang bergerak,

5. Rahang yang tetap,

6. Bidal/sarung pengukur,

7. Laras skala,

8. Penahan panas,

9. Gigi geser, dan

10. Tangkai pengunci..

Sifat – Sifat Teknik dari Mikrometer :

1. Batang Mikrometer, dibuat dari baja campuran yang dikeraskan dengan baik. Tegangan – tegangan didalamnya dihilagkan atau dikurangi, ulir – ulir digerinda beberapa kali pada mesin - mesin gerinda yang presisi. Kerataan dan kesejajaran dari permukaan – permukaan ukur diperiksa dengan lena datar untuk menjamin ketelitian yang tinggi. Permukaan – permukaan ukur sering menggunakan baha “tungsten carbida”.

2. Mur pengatur dan lengan pengarah (guide – sleeve) digunakan untuk mengarahkan batang micrometer dengan baik, mur pengatur ini juga digunakan unuk mengatur agar getaran pada batang mikrometer dapat dikurangi., sehingga benda dapat diam pada rahang mikrometer.

Pembagian pada Mikrometer :

Laras mempunyai skala untuk sejumlah milimeter dan skala yang lain untuk setengah millimeter, dan sarung pengukur dibagi kedalam 50 bagian melingkar. Kisar pengukur pada mikrometer biasanya 0,5 mm, satu putaran dari batang pengukur dapat menyebabkan batang pengukur tersebut bergerak 0,5 mm, arah memanjang.

Satu putaran penuh dari sarung pengukur adalah 0,5 mm, maka :

1 bagian = 0,5mm : 50 = 50/100 : 50 = 1/100 mm = 0,01 mm.

Pembacaan ukuran :


Jumlah (mm) pada laras skala + Tengahan (mm) + Perseratusan (mm) pada sarung pengukur.



Macam – Macam Tipe dari Mikrometer :

Mikrometer Pembacaan Langsung

Mikrometer ini dilengkapi dengan penunjukkan angka (digit mechanism) yang dapat menghilangkan kesalahan pembacaan. Millimeter ditunjukkan pada laras skala, perpuluhan dari millimeter terdapat pada bagian yang berangka dan perseratusan dapat dibaca pada sarung pengukur, dan perseribuan pada millimeter terdapat pada “vernier”nya.

Mikrometer dengan Penunjukan Angka

Pembacaan dari kiri ke kanan ditunjukkan pada laras skala. Semua pecahan dari milimeter (0,1 mm dan 0,01 mm) terdapat pada bagian yang berangka.

Mikrometer Angka ( All – digit Mikrometer)

Semua angka menunjukkan millimeter, persepuluhan dan perseatusan, hingga dua perseribu yang semuanya ditunjukan pasa skala micrometer.

Mikrometer dengan Rahang yang bisa diganti – ganti

Mikrometer ini dilengkapi dengan batang rahang yang berbeda – beda panjangnya, untuk mengukur sampai panjang 100 mm. Setiap batang rahang mempunyai perbedaan 25 mm dan ketelitian 0,01 mm. Mikrometer seperti ini ada yang mengukur sampai dengan 1500 mm.

Cara – Cara Memegang dan Mengatur Mikrometer

Benda kerja bebas : satu tangan, kelingking dan jari manis dari tangan kanan memegang mikrometer, jari yang lain memutar sarung pengukur atau gigi geser dan tangan kiri memegang benda kerja.
Benda kerja tercekam : dua tangan, kedua tangan dapat digunakan. Pegang mirometer dengan tangan kiri dan tangan kanan, digunakan untuk memutar gigi geser.
Benda kerja yang banyak : pemegang mikrometer digunakan untuk mempercepat pengukuran dari sejumlah kerja yang sama. Tangan kiri memegang benda kerja dan tangan kanan memegang gigi geser.

Membersihkan dan Penyetelan Mikrometer

Membersihkan

Jike mikrometer digunakan setiap hari, maka micrometer tersebut akan kotor dan tentunya harus selalu dibersihkan dalamnya setiap dua atau tiga bulan. Dengan langkah –langkah sebagai berikut :

1) Buka gigi geser,

2) Buka sarung pelindung,

3) Kendorkan baut,

4) Lepaskan sarung pengukur,

5) Lepaskan batang pengukur dari bingkai,

6) Bersihkan batang pengukur dan murnya dengan bensin dan gunakan kuas yang lembut, kemudian lapisi batang pengukur tersebut dengan oli yang bebas dari asam – asam seperti “Velocite 6”,

7) Pasang batang pengukur. Dalam pemasangan ini haruslah hati – hati agar rahang yang bergerak tidak rusak dan kuncilah batang pengukur dengan pengunci H, bila batang pengukur sudah terpasang,

8) Pasang sarung pengukur dengan hati – hati,

9) Pasang gigi geser, dan

10) Setel micrometer tersebut pada posisi nol, kencangkan baut dan pasang sarung pelindung.

Penyetelan

Penyetelan dapat dilakukan dengan langkah – langka sebagai berikut :

1) Bersihkan kedua rahang,

2) Stel pada posisi nil dengan gigi geser,

3) Kunci batang pengukur dengan pengunci penyimpangan kecil,

4) a. Pada penyimpangan kecil, putar laras skala dengan pemutar sampai dengan posisi yang tepat.

b. Pada penyimpangan yang besar :

> Buka sarung pelindung,

> Kendorkan baut,

> Stel sarung pengukur,

>Kencangkan baut, dan

> Pasang sarung pelindung.

5) Kendorkan batang pengukur dari pengunci, dan

6) Periksa pengukuran/pembacaan.

Catatan : Untuk mikrometer yipe yang lainnya, herus hati – hati dalam menjalankan instuksi – instruksinya.

Contoh Pembacaan alat ukur Mikrometer :

Berapakah ukuran benda pada mikrometer disamping.

Text Box: Jumlah (mm) pada laras skala + Tengahan (mm) + Perseratusan (mm) pada sarung pengukur. Penyelesainnya :

Maka didapatkan :

16 + 0,5 + 0,22 = 16, 72 mm.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan :

· Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang menunjukakan perbandingan langsung dari benda yang diukur langsung dengan beberapa skala asli.

· Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang digunakan di begnkel, dapat digunakan untuk mengukur ukuran luar, ukuran dalam, dan mengukur kedalaman dalam satuan mm ataupun inchi.

· Ketelitian dari skala nonius ada bermacam – macam, diantaranya :

dalam millimeter (mm) :1/10 = 0,1 mm; 1/20 = 0,2 mm; dan 1/50 = 0,05 mm.

dan dalam inchi :1”/128, dan 1”/1000.

· Mikrometer merupakan alat untuk mengukur ketebalan suatu benda yang dapat mengukur dari ketelitian 0,01 mm sampai 0,002 mm.

· Kekurangan dari micrometer ini adalah jarak pengukurannya pendek, hanya sampai 25 mm(bagian luar micrometer).

· Pembacaan ukuran :


Jumlah (mm) pada laras skala + Tengahan (mm) + Perseratusan (mm) pada sarung pengukur.



B. Saran

Dalam penulisan artikel ini, masih kurang dalam hal sumber referensi, karena penulis dalam penulisan artikel ini hanya menggunalan satu sumber saja, untuk kedepannya penulis akan menggumakan lebih banyak lagi sumber referensi, dan tidak hanya menggunakan satu sumber saja.

Untuk pembaca, koreksi dan tanggapannya ataupum saran – sarannya sangat diharapkan penulis, itu semua agar dalam penulisan artikel – artikel selanjutnya dapat lebih baik lagi.

PUSTAKA RUJUKAN

Husen, Asep Setiadi. dkk. (tanpa Tahun). Fabrikasi Logam (Materi Perkuliahan). Bandung: tidak diterbitkan.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar